Berqurban Adalah Menyembelih Sendiri Tanpa Mewakilkan Kepada Orang Lain

Oleh : Ahmad Bisyri Syakur, Lc, MA.

(Penulis Buku Fiqih, Konsultan dan Trainer Waris Islam Zaid Bin Tsabit)

Berqurban Adalah Menyembelih Sendiri Tanpa MewakilkanSemangat berqurban di tengah-tengah masyarakat muslim Indonesia khususnya di perkotaan perlu kita syukuri dan kita tingkatkan. Tidak sedikit dari muslim perkotaan yang membeli hewan qurban lebih dari satu ekor lalu dibagi-bagi kepada pihak-pihak yang di kenal dan dipercaya.

Spanduk-spanduk ajakan berqurban juga terpampang besar di berbagai perempatan jalan-jalan kota dengan megahnya. Namun demikian, ada satu catatan penting yang diabaikan bahkan diremehkan oleh pequrban juga oleh para asatidz dan kyai itu sendiri. Apakah itu? Menyembelih hewan qurban milik sendiri tanpa mewakilkannya kepada orang lain.

Mayoritas pequrban merasa cukup dan merasa telah melaksanakan perintah qurban dengan menitipkan hewan qurban kepada DKM dan panitia qurban di berbagai masjid.

Mereka juga sudah merasa cukup puas dengan melakukan transfer harga hewan qurban kepada Lembaga-lembaga yang mempromosikan qurban sebagai bantuan kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama.

Apakah berqurban itu harus menyembelih sendiri dan tidak boleh mewakilkannya kepada orang lain begitu saja? Mari kita fahami dengan baik status qurban dalam peribadatan islam dan tabiat peribadatan itu sendiri.

Pertama : menyembelih qurban adalah salah satu syiar ibadah yang resmi dalam islam sebagaimana yang tertulis secara harfiyah dan gambling dalam qs.alkautsar: 2 yaitu lakukanlah sholat dan lakukanlah penyembelihan. Kalimat yang tertulis adalah “wanhar” yang berarti penyembelihan hewan qurban. Begitu juga kalimat yang tertulis resmi dalam banyak redaksi hadist nabi saw adalah “yaumun-nahr” artinya hari penyembelihan hewan qurban atau hari iedul adha.

Kedua: inti dari ibadah qurban terletak pada penyembelihan dan bukan pada distribusi daging hewan qurban yang telah disembelih. Oleh karenanya jika kita mau membaca dengan teliti teks teks terkait aturan “ibadah qurban” maka kita akan menemukan penekanan-penekanan pada penyembelihannya.

Kita akan temuakan aturan penyembelihan yang sangat ketat diantaranya terkait waktu penyembelihan yaitu setelah sholat iedul adha sampai setelah sholat asar tanggal 13 dzulhijjah, juga terkait alat penyembelihan yaitu besi yang ditajamkan, juga terkait ucapan saat penyembelihan yaitu “bismillahi allhau akbar” untuk membesarkan nama allah swt saja.

Sementara untuk distribusi tidak terlalu mendapatkan perhatian dan penekanan dalam syariat berqurban. Distribusi boleh dilakukan dimana saja dan kapan saja, tidak ada tata cara distribusi tertentu yang diajarkan.

Ketiga: setiap ibadah yang diperintahkan oleh allah swt kepada seorang mukallaf tentunya dilakukan oleh mukallaf itu sendiri dan tidak diwakilkan kepada orang lain.
Di dalam ajaran islam ada ibadah yang tidak boleh diwakilkan sama sekali seperti sholat, dan adapula yang boleh diwakilkan kepada orang lain seperti boleh mewakilkan melontar jumroh saat haji jika sakit berat.

Ibadah-ibadah yang boleh diwakilkan oleh orang lain tidaklah berlaku muthlaq atau bebas, mewakilkan sebuah ibadah haruslah memiliki alasan yang syar’I yaitu alasan yang logis dan realistis sebagai halangan pelaksanaan sebuah ibadah seperti sakit berat atau sejenisnya.

Oleh karenanya seseorang yang hanya membeli hewan qurban namun tidak melakukan penyembelihan atas hewan tersebut tanpa halangan syar’I yang logis dan realistis maka ia sesungguhnya belum berqurban.

Hewan qurban yang dibelinya lalu dititipkannya kepada panitia qurban dan diwakilkan penyembelihannya kepada orang lain tidaklah berstatus ibadah qurban namun sebatas sedekah hewan qurban.

Keempat : semua definisi udhiyah dalam berbagai kitab-kitab fiqh selalu diawali dengan kata “penyembelihan” dan bukan kata “distribusi daging”. Tidak akan kita temukan definisi udhiyah yang berbunyi: udhiyah/qurban adalah distribusi daging kepada orang-orang yang membutuhkan.

Kita hanya menemukan definisi udhiyah/qurban yang berbunyi : udhiyah adalah sembelihan hewan tertentu yaitu kambing atau domba atau sapi atau unta pada hari raya iedul adha/yauman-nahr dan hari-hari tasyriq untuk mendekatkan diri kepada allah swt.

Kelima: secara eksplisit memang tidak ada ulama yang memfatwakan bahwa tidak menyembelih hewan qurban sendiri berarti belum berqurban. Namun hal itu terjadi karena para ulama telah memberikan definisi udhiyah/qurban dengan kata “menyembelih” sehingga tidak perlu memberikan penegasan secara khusus karena perintah “menyembelih sendiri tanpa mewakilkan kepada orang lain” sudah sangat jelas dalam definisi udhiyah/qurban.

Adapun halangan syar’I yang melegalkan seseorang untuk tidak menyembelih sendiri hewan qurbannya adalah ;

  • Halangan psikologis bagi wanita yang takut melihat darah, takut melihat senjata tajam dan takut dengan hewan qurban. Alasan psikologis ini tidak berlaku bagi laki-laki.
  • Halangan tekhnis yang realistis yaitu bergabungnya 7 orang dalam urunan pembelian sapi qurban atau unta menyebabkan salah seorang dari mereka saja yang dibebani untuk menyembelih hewan tersebut karena tidaklah memungkinkan bagi 7 orang itu untuk menyembelih secara Bersama-sama.
    Adapun alasan-alasan yang sering dimunculkan di tengah masyarakat untuk tidak menyembelih sendiri hewan qurbannya seperti: tidak tega, tidak bisa, tidak biasa dan sejenisnya bukanlah HALANGAN SYAR’I.

Inilah hal yang banyak diabaikan bahkan diremehkan oleh masyarkat muslim dalam ibadah qurban sehingga mereka tidak mendapatkan pahala qurban akibat tidak mau menyembelih sendiri hewan qurbannya. Mereka hanya mendapatkan pahala sedekah hewan qurban dan distribusi daging saja.

Mari kita menyembelih sendiri hewan qurban kita dengan tangan kita sendiri karena ini adalah ibadah kita sendiri sehingga kitalah yang menjalankannya. Jika kita merasa tidak tega maka ketahuilah bahwa perasaan seperti itu hanyalah godaan syetan yang terkutuk agar kita tidak melakukan perintah penyembelihan hewan qurban kita sendiri sebagai ibadah.

Bagi pengurus dewan kemakmuran masjid dimana saja anda berada saya pesankan untuk memfasilitasi penyembelihan hewan qurban yang dititipkan dan bukan mengambil alih penyembelihan hewan tersebut.

Tugas panitia qurban hanyalah melakukan koordinasi dan penataan pelaksanaan ibadah qurban agar berjalan dengan tertib dan tidak menimbulkan hal-hal negative di tengah-tengah jamaah sekitar masjid.

Wallahu’alam.
Semoga bermanfaat.

Download Kupas Tuntas Ibadah Qurban 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *