Semakin Cerdas Pasca Ramadhan – By.. H. Ahmad Bisyri Syakur,Lc.MA

الله أكبر , الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر , الله أكبر, و لله الحمد

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآَخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ (1) يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ الرَّحِيمُ الْغَفُورُ.

أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد ان محمدا رسول الله لا نبي بعده.اللهم صل علي سيدنا محمد وعلي ال محمدكما صليت علي ابراهيم وعلي ال ابراهيم في العالمين انك حميد مجيد.

أيها المسلون…أوصيكم واياي نفسي بتقوي الله فقد فاز المتقون.

يقول الله تعالي:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ali-Imron : 102

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ al-

Al-Hasyr : 18

أما بعد:

الله أكبر , الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر , الله أكبر, و لله الحمد

Para hamba-hamba Allah yang dirahmati…

Segala puji hanyalah milik allah swt..yang telah menciptakan alam semesta. Segala puji hanyalah milik allah  swt..yang telah menciptakan kita semua. Segala puji hanyalah milik Allah swt yang telah menurunkan syariat dan mencukupkan rizki untuk seluruh makhluq dan hamba-hambaNya.

Shalawat teriring salam selalu kita dengungkan untuk sang idola, guru seluruh manusia, teladan tanpa tanding nabi Muhammad bin Abdullah saw yang telah mengarahkan dan mencerahkan cakrawala berfikir manusia untuk penyembahan kepada Allah swt semata. Begitu juga untuk para keluarga dan sahabat beliau yang selalu setia mendukung dan membela ajaran beliau sampai kapan pun juga.

Sebagai khatib pada kesempatan idul fitri tahun 1431 H ini saya tidak lupa untuk berwasiat dan berpesan kepada hadirin seluruhnya, tak lupa diri saya sendiri..marilah kita selalu mendengarkan dan melakukan segala hal yang dapat menyegarkan keimanan kita kepada ajaran Allah swt, mendengarkan dan melakukan segala hal yang dapat memperkokoh ketaqwaan kita terhadap Allah swt karena itulah bekal yang terbaik untuk menggapai keselamatan duniawi dan ukhrawi.

الله أكبر , الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر , الله أكبر, و لله الحمد

Para hamba-hamba Allah yang dirahmati…

“Cerdas” adalah kalimat yang membanggakan setiap orang. Kalimat yang menyanjung dan meninggikan derajat seseorang. Siapapun orangnya pastilah akan senang jika kalimat cerdas disebutkan untuk dirinya. Istri akan senang jika suaminya menyebut “engkau adalah istri yang cerdas” begitu juga sebaliknya. Murid akan bangga jika gurunya menyebut “engkau adalah murid yang cerdas”. Karyawan juga akan sangat senang jika pimpinannya menyebut “ engkau/kalian adalah karyawan yang cerdas”.

Sinonim dari kalimat cerdas adalah pintar, cerdik dan pandai. Dalam bahasa al-quran disebut ulul albab, ulul absor dan ulin nuha. Pujian yang tinggi akan dimiliki oleh siapapun yang dapat menempelkan kalimat cerdas pada dirinya.

Namun demikian masyarakat  kita ternyata belum memiliki pengertian yang tepat tentang kalimat cerdas tersebut, merekapun belum mampu menyandangkannya kepada seseorang dengan tepat.  Contoh : seorang dukun disebut sebagai orang pintar…? Mendapatkan nilai 8-9-10 disebut sebagai anak pintar..? mengenakan dasi dan jas yang gagah disebut sebagai orang pintar..? mampu meraih jabatan tinggi tertentu juga sering disebut dengan orang pandai..? akibat kekeliruan penempatan kalimat cerdas tersebut masyarakat akhirnya kecewa dengan sendirinya. Sehingga  para pejabat yang disebut pandai namun mengecewakan dengan kesal masyarakat menyatakan “pinter tapi keblinger” atau mereka mengatakan “ pinter apaan tuh…kalo prilakunya begitu”

الله أكبر , الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر , الله أكبر, و لله الحمد

Para hamba-hamba Allah yang dirahmati…

Jika kita ingin merujuk kepada ajaran islam….sesungguhnya nabi besar Muhammad saw sejak lama telah mendudukkan kalimat cerdas pada tempatnya, beliau telah meletakkan definisi kecerdasan yang sesungguhnya.

Dalam sebuah hadist yang dikeluarkan oleh Imam Tirmizi rasulullah saw bersabda:

عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ أَبِى بَكْرِ بْنِ أَبِى مَرْيَمَ عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ ». قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ.

Artinya :

Dari syaddad bin Aus rasulullah saw bersabda : orang yang kayyis/cerdas itu  adalah siapa saja yang dapat menaklukkan hawa nafsunya dan siapa saja yang selalu berbuat untuk kehidupan setelah mati, sedangkan orang yang ‘ajiz/bodoh itu adalah siapa yang selalu menuruti keinginan hawa nafsunya saja dan siapa yang Cuma memiliki harapan-harapan baik kepada allah swt.

Sangat jelas dapat kita fahami dari hadist di atas bahwa rasulullah saw meletakkan dua criteria orang cerdas dan dua criteria orang bodoh.  Adapun criteria orang cerdas menurut rasulullah saw adalah :

  1. Memiliki kemampuan mengontrol keinginan-keinginan diri
  2. Memiliki semangat berbuat/beramal dengan orientasi akhirat.

Sedangkan dua kriteria orang bodoh menurut rasulullah saw adalah

  1. Tidak memiliki kemampuan mengontrol keinginan-keinginan diri.
  2. Tidak memiliki semangat kerja dengan orientasi akhirat.

الله أكبر , الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر , الله أكبر, و لله الحمد

 

Pertama : Mengontrol diri dan mengendalikannya.

Diri kita memiliki berbagai macam keinginan, selera dan kecenderungan. Itu merupakan fitrah yang Allah swt titipkan dalam penciptaan manusia. Namun bukan berarti seluruh keinginan yang ada dalam diri kita menjadi legal dan sah untuk kita perturutkan. Allah swt telah menguji manusia dalam hal ini untuk menyesuaikan antara keinginan diri dan tuntunan syariatNya.

Ada keinginan yang sejalan dengan syariat maka boleh kita perturutkan, dan ada pula keinginan yang bertentangan dengan syariat maka kita wajib menahan dan mengekangnya. Contoh : keinginan untuk  berhubungan seksual yang dilakukan dengan legalitas syariat yaitu pernikahan maka boleh untuk diperturutkan. Sedangkan keinginan untuk berhubungan seksual yang tidak di ikat dengan pernikahan maka wajib untuk di kekang.

Ibadah puasa ramadhan yang baru saja selesai kita jalankan merupakan ibadah yang melatih/mendidik kita untuk “cerdas” dapat menahan dan mengendalikan diri sesuai syariat islam.  Coba kita renungkan..: pada siang hari dibulan ramadhan kita tidak mau makan atau minum atau berhubungan seksual dengan istri-istri kita. Kita tidak melakukan itu semua bukan karena kita tidak lapar dan haus atau tidak bernafsu dengan istri…terus terang kita lapar dan haus dan kitapun masih normal dan memiliki hasrat sangat kuat untuk melayani istri-istri kita. Namun kita tidak memperturutkan hawa nafsu dan keinginan tersebut karena kita senang dikendalikan oleh syariat islam yang diajarkan kepada kita oleh nabi Muhammad saw. Di bulan ramadhan kita mampu mengendalikan keinginan dan selera kita dan kita menjadi orang yang cerdas.

Orang yang cerdas akan mampu mengontrol emosional yang ada dalam dirinya. Orang cerdas tidak akan menjadi hipokrit dan munafiq. Orang cerdas tidak akan menyakiti tetangga ataupun orang lain. Orang cerdas tidak akan terjerumus dalam kemaksiatan. Orang cerdas akan selalu indah dipandang manusia dalam kehidupan mereka.

Jelaslah bagi kita sekarang bahwa pejabat yang karupsi/senang dengan uang suap  bukanlah pejabat yang cerdas dan terhormat. Pelajar dan mahasiswa yang menganut free seks dan berzina bukanlah pelajar dan mahasiswa yang cerdas dan tidak pantas dihormati. Pelajar dan mahasiswa yang senang tawuran dan keonaran bukanlah pelajar dan mahasiswa yang cerdas dan terhormat. Para aparat yang suka memeras tidaklah pantas dihormati, mereka bukan orang cerdas walaupun berpakaian dinas dan tampak gagah. Para politikus yang menjual asset Negara dan mendustai rakyat bukanlah orang cerdas dan terhormat.

الله أكبر , الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر , الله أكبر, و لله الحمد

Kedua : Memiliki semangat kerja dengan orientasi akhirat.

Rasulullah saw mencirikan kecerdasan dengan kerja dan karya, dengan gerak dan aktifitas, kaya inovasi dan kreatif. Gelar kesarjanaan yang tdak menghasilkan kreatifitas dan aktifitas gelar sarjananya belumlah mencerdaskan. Pengajaran yang tidak membuat seseorang bekerja, beramal,berbuat dan berkarya bukanlah pendidikan dan pengajaran yang mencerdaskan. Ketika seseorang tidak terserap lapangan kerja yang ada dan tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru maka orang tersebut bukanlah orang yang cerdas.

Namun demikian rasulullah melengkapi ajarannya dengan kalimat “ wa ‘amila lima ba’dal mauti” artinya : kerja dan aktifitas keseharian yang dilakukan oleh seseorang berorientasi pada kehidupan pasca kehidupan duniawi. (qs:al-an’am :162)

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: katakanlah : sesungguhnya shalat yang aku lakukan, pengorbanan yang aku kerjakan, aktivitas hidup yang aku jalankan dan kematian yang aku temui hanyalah untuk Allah swt tuhan semesta alam.

Orang cerdas akan bekerja dengan oreintasi akhirat, upah, honor,gaji, insentive dan lainnya tidak akan menjadi orientasi kerjanya karena dia faham dan mengerti bahwa gaji dan sejenisnya adalah hak dan konsekwensi dari pekerjaan yang dilakukannya.

Bukankah kita yakin dengan kehidupan akhirat setelah kehidupan dunia ini..? bukankah kita yakin bahwa pahala dan nilai adalah tiket mendapatkan surga..? bukankah kita yakin bahwa kerja dan amal yang ikhlas akan berbuah pahala di sisi allah swt..?  jika kita meyakini itu semua marilah kita berkarya dan berbuat pada bidang kita masing-masing dengan orientasi akhirat. Jadilah kita ummat nabi Muhammad saw yang cerdas seperti yang beliau definisikan untuk kita.

Janganlah kita menjadi orang bodoh yang selalu berharap surga namun tidak pernah mau menuruti perintah Allah dan tidak pernah mau meninggalkan segala yang diharamkan dan di larang.

Berhentilah kita dari praktek suap-menyuap, jual beli jabatan dan nomor urut, jual beli bangku sekolah, jual beli bangku kuliah, berhentilah kita dari praktek ribawi dalam dunia ekonomi kita, berhentilah kita untuk menayangkan gambar dan adegan yang memprofokasi orang lain untuk berzina. Jadilah kita orang yang semakin cerdas pasca ramadhan.

الله أكبر , الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر , الله أكبر, و لله الحمد

Bulan ramadhan telah berlalu, segala keistimewaan dan kelebihannya telah pergi bersamanya. Adakah kita telah menyerap seluruh pesan edukatif darinya..? mudah mudahan sudah…kita menjadi terlatih untuk segala kondisi susah dan lapar, kita semakin peka dengan kaum miskin dan lemah, kita pun menjadi terbiasa untuk menyongsong fajar yang jernih, kita juga menjadi suka bangun dan bermunajat di malam hari yang sunyi, kita semakin faham dan mengerti arti mengekang dan menahan hawa nafsu, kitapun semakin dekat dengan Allah swt dan semakin faham akan hakekat kehidupan dunia ini.

Demikianlah uraian singkat untuk semakin cerdas dan pandai pasca ramadhan. Semoga memberikan pencerahan dan manfaat.sehingga hari-hari kita akan selalu bernilai hingga kita menemui ajal kita kelak. Wallahu’alam bisshowaab.

بارك الله لي ولكم في القران الكريم…………….

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات………………..

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *