Menyatukan Berbagai Kelompok Dakwah

Menyatukan Berbagai Kelompok Dakwah – Sebuah rumah besar yang dibangun dalam waktu satu tahun atau lebih dapat dihancurkan hanya dalam hitungan jam.

Merusak dan menghancurkan adalah pekerjaan yang sangat mudah dan dapat dilakukan dengan cepat dengan biaya yang sangat minim. Sementara membangun dan menata adalah sebuah pekerjaan yang rumit dan butuh waktu lama, butuh ketelatenan, kesabaran, dan pengorbanan.

Banyak orang yang memandang persatuan itu sangat penting tapi pada saat yang sama prilaku dan statement-statementnya sering berdampak pecah belah ummat.

Berdakwah hakekatnya adalah membangun dan menata kehidupan. Untuk dapat membangun dibutuhkan kekuatan. Untuk memiliki kekuatan dibutuhkan kesatuan. Untuk dapat menyatukan dibutuhkan ilmu pengetahuan dan keikhlasan.

Beberapa fenomena dari sebagian oknum yang mengaku berada di jalan dakwah lebih senang memecah belah dari pada menyatukan. Hal itu terbukti dengan begitu mudahnya ia mencela kelompok dakwah lain yang tidak sejalan dengan dirinya dan juga komunitasnya. Dengan ringan ia menilai pekerjaan orang lain yang tidak sama dengan dirinya dan kelompoknya sebagai perbuatan bid’ah dan pelakunya adalah calon penghuni neraka. Padahal pekerjaan itu dalam hukum fiqh adalah kontroversial atau bersifat ijtihadi dan sangat multi tafsir serta dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Jika kita selalu ingin agar ummat islam ini berwibawa dan tidak dilecehkan serta ditindas di mana-mana maka yang harus kita lakukan adalah membuat statement yang menyejukkan dan menyatukan, bersikap toleran dan lapang dada. Memahami situasi dan kondisi saudara muslim kita sehingga kita tidak terlibat perdebatan yang menjauhkan hati dan merenggangkan hubungan sesama ummat islam.

Bukankah Allah swt telah mengajarkan agar seorang muslim bersikap kasih dan sayang serta toleran kepada sesama muslim. Mari kita belajar dari surah al-fath :29

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Artinya : Muhammad saw dan para pengikutnya adalah orang-orang yang bersikap tegas terhadap orang kafir dan bersikap rahim (kasih dan sayang) kepada sesama muslim.

Yang perlu kita dalami dalam ayat di atas adalah kata “ ruhama” yang berarti kasih dan sayang. Kasih sayang adalah sikap mengayomi dan melindungi. Ruhama adalah sikap tidak memusuhi, tidak mencurigai dan tidak ingin menyakiti.

Membid’ahkan perkara ijtihady yang dikerjakan oleh sebagian kamunitas muslim adalah sikap yang bertentangan dengan kata ruhama. Menghakimi sekelompok muslim yang berbeda pandangan dalam perkara yang tidak prinsip dan multi tafsir sebagai calon penghuni neraka adalah sikap yang bertolak belakang dengan ajaran ruhama dalam ayat di atas.

Jika kita melihat seorang muslim melakukan hal yang kita anggap salah dalam urusan ijtihadi maka sikap yang harus kita tunjukan adalah menasehati dengan kata-kata yang lembut dan tidak merendahkannya. Jika ia tidak menerima nasehat kita dan tetap berpegang teguh dengan pendapatnya maka sikap yang harus kita tunjukan adalah bertoleransi dan tidak memaksakan pendapat kita kepadanya.

Kita menyadari dengan sepenuh hati bahwa permasalahan yang kita hadapai bukanlah hal yang  prinsip. Kita menyadari bahwa para ulama terdahulu pun telah berbeda pendapat dan mereka tidak saling memaksakan pendapat masing-masing.

Sikap ruhama kepada sesama muslim ini sangat dibutuhkan untuk mewujudkan persatuan ummat islam secara nasional dan internasional. Sikap ruhama kepada sesama muslim juga menjadi kunci untuk memenangkan pertarungan antara pembela iman dan pembela kekufuran.

Banyak tokoh masyarakat yang ingin ummat islam ini bersatu namun sikap ruhama kepada sesama muslim tidak pernah ia tunjukkan. Sikap mereka yang selalu keras terhadap sesama muslim sangat bertentangan dengan seruan yang mereka sering lontarkan. Lebih dari itu sikap sikap lembut terhadap kaum kafir selalu mereka perlihatkan. Lidah mereka sangat  tajam kepada masyarakat muslim namun sangat santun terhadap masyarakat kuffar.

Banyaknya partai islam, banyaknya ormas islam, banyaknya lsm-lsm dan kelompok islam di masyarakat tidaklah mengakibatkan perpecahan ummat. Perbedaan pendapat dalam mazhab-mazhab fiqh bukanlah sebab perpecahan ummat. Namun yang membuat perpecahan ummat ini adalah hilangnya sikap ruhama kepada sesama muslim dalam pergaulan nasional dan internasional.

Tanpa sikap ruhama maka persatuan tidak akan dapat kita wujudkan. Tanpa sikap ruhama perpecahan akan semakin tampak dalam kehidupan ummat islam.

Bagaimana agar kita dapat bersikap ruhama?

Untuk menumbuhkan sikap ruhama dalam pergaulan dengan sesama muslim dalam lingkup nasional dan internasional dibutuhkan beberapa hal;

  1. Keimanan yang kuat
  2. Keihlasan yang mendalam
  3. Pengetahuan dan wawasan yang luas

Orang beriman tidak menginginkan perpecahan, orang yang ikhlas tidak terpengaruh kepentingan pragmatis untuk membuat perpecahan, dan orang yang berpengetahuan dan berwawasan luas akan mampu bertoleransi dan berlapang dada.

Keimanan yang kuat pastilah menjadikan seseorang tunduk kepada al-qur’an dan sunnah yang mengajarkan untuk rendah hati kepada sesama muslim, mengajarkan saling mencintai karena Allah swt dan mengajarkan untuk melindungi masyarakat muslim. (al-hijir :88) dan (as-syua’ro: 215)

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

Artinya : dan rendahkanlah hatimu kepada masyarakat muslim.

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya : dan rendahkanlah hatimu kepada orang-orang yang mengikuti ajaranmu dari masyarakat muslim

Begitu juga dengan keikhlasan yang mendalam seseorang akan berprilaku hanya untuk mendapatkan ridho allah swt. Ia tidak akan mencari ridho masyarakat, ridho pejabat dan elektabilitas tinggi. Dengan keikhlasannya ia akan berjalan lurus mengikuti petunjuk Allah swt dalam menyikapi lingkungannya.

Demikian pula dengan orang yang berpengetahuan dan berwawasan luas pastilah akan lebih cermat, lebih berhati-hati dan tidak sembarangan dalam memandang permasalahan yang muncul di masyarakat. Ia akan sangat jeli dalam memberikan penilaian dan tidak mudah untuk menyalahkan ummat islam jika terjadi konflik horizontal.

Semoga Allah swt memberikan kekuatan iman di hati kita, memberikan kemurnian hati dalam menjalankan perintahnya serta memudahkan kita untuk mendapat pengetahuan dan wawasan yang bermanfaat untuk menerangi akal fikiran kita. Sehingga kita lebih dapat bersikap toleransi dan berlapang dada kepada sesama muslim. Amin yaa robbal ‘alamin.

Oleh: Ahmad Bisyri Syakur, Lc, MA (Konsultan Waris Zaid Bin Tsabit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *