Oleh

Ustadz Ahmad Bisyri Syakur, Lc, MA

(Penulis, Konsultan dan Trainer Waris Islam

Menjawab Permasalahan Seputar Qurban
Alhamdulillah…was-sholatu was-salaamu ‘alaa rosulillah, amma ba’du:

Berqurban bagi masyarakat muslim kita adalah hal yang sudah biasa, rutin mereka kerjakan setiap tahunnya pada hari raya idul adha dan tiga hari tasyriqnya. Namun demikian tidak berarti berqurban itu telah difahami dengan benar oleh masyarakat muslim tersebut. Tidak sedikit kesalah fahaman kita temui, tidak sedikit pertanyaan kita dengarkan, tidak sedikit kebingungan kita temukan dari masyarakat muslim ini.

Dalam tulisan singkat ini saya mencoba menjelaskan beberapa hal yang menjadi pertanyaan masyarakat dalam urusan qurban :

1. Apakah hakekat qurban itu? Berbagi daging atau menyembelih?
Untuk menjawab pertanyaan di atas silahkan di buka surah al-hajj:36 yang menjelaskan :

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Substansi ayat di atas adalah Allah swt telah menjadikan hewan qurban itu sebagai media peribadatan kepadaNya dengan cara menyembelihnya sambil membaca basmalah dan takbir. Setelah penyembelihan usai, pequrban diperintahkan untuk memakan sebagian dari daging sembelihannya lalu membagikan selebihnya kepada orang lain yang meminta maupun yang tidak meminta.

Dengan demikian dapat kita fahami dengan mudah bahwa hakekat dan inti berqurban adalah penyembelihan dan bukan berbagi daging. Distribusi daging adalah konsekwensi logis dari berlimpahnya daging sembelihan qurban pada hari raya itu dan bukan hakekat dan inti berqurban.

Oleh karenanya, seseorang yang memiliki hewan qurban tidak dikatakan ia telah berqurban kecuali ia telah menyembelih sendiri hewan qurbannya atau mewakilkannya jika berhalangan serius.

Trend yang ada di masyarakat kita sekarang ini adalah merasa cukup dengan mentransfer harga hewan qurban ke suatu lembaga kolektor qurban. Sebagian yang juga merasa cukup dengan menitipkan hewan qurban mereka di sebuah masjid atau musholla atau majlis taklim atau sekolah.

Inilah yang perlu yang klarifikasi dalam tulisan ini.

Seandainya berbagi daging itu adalah inti dan hakekat dari berqurban maka cukuplah bagi kita untuk membeli daging dan mendistribusikannya. Lebih simple dari itu jika ia membeli pentol baso atau sosis atau kornet lalu ia mendistribusikannya kepada orang lain. Benarkah begitu ibadah qurban?

Berqurban sesungguhnya adalah melakukan penyembelihan hewan qurban pada hari raya idul adha dan 3 hari tasyrik untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Berbagi daging adalah sedekah biasa sebagai mana sedekah pada waktu yang lain dengan benda yang lain. Tidak ada kelebihan berbagi daging pada hari raya idul adha dari pada sedekah dengan sembako dan lainnya. Kelipatan pahala dan ganjaran besar hanya akan didapat oleh pelaku qurban pada saat penyembelihan. Mari kit abaca hadist berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا ».

HR. Tirmizi
Artinya : pada hari raya idul adha dan 3 hari tasyrik setelahnya pekerjaan yang paling dicintai dan disukai oleh Allah swt adalah MENYEMBELIH HEWAN QURBAN (ihroqud-dam)….

Begitulah nilai sebuah penyembelihan qurban di sisi Allah swt. Lebih hebat dari semua pekerjaan dan amal ibadat lainnya. Maka inti dan hekekat berqurban adalah menyembelih dan bukan berbagi daging.

2. Benarkan berqurban dengan cara urunan uang senilai Rp 10.000,- umpamanya dari banyak orang untuk membeli seekor kambing atau sapi?
Jawab :
Untuk memahami permasalahan di atas kita perlu mengutip sebuah hadist riwayat Ahmad dari Abu Hurairoh yang menjelaskan tentang standarisasi taklif atau pembebanan berqurban.

« مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا »

Artinya : seseorang yang memiliki kemampuan finansial (untuk berqurban) namun ia enggan berqurban maka ia tidak boleh ikut sholat berjamaah dengan kami (nabi dan sahabat).

Dalam hadist di atas kita temukan bahwa nabi saw menetapkan standarisasi orang yang mendapat taklif berqurban yaitu mereka yang memiliki harga hewan qurban minimal pada hari raya idul adha dan 3 hari tasyriq setelahnya.

Oleh karena itu bagi seseorang yang tidak memiliki nilai minimal seekor hewan qurban maka tidak ada pembebanan berqurban kepadanya. Dia pun tidak perlu berkecil hati dan minder di hadapan orang lain. Kondisi miskin yang diderita seseorang itulah yang menghalangi seseorang untuk mendapat taklif berqurban. Namun demikian nabi saw sudah menyembelih ummatnya yang miskin dan tidak mampu..dont worry.

Selain dari hadist di atas kita bisa memperoleh jawaban logis bahwa patungan uang Rp 100.000 bukanlah berqurban dengan logika sederhana.

Saya mengajak pembaca untuk menjawab pertanyaan mudah yang sudah diyakini kebenarannya, yaitu : Bolehkah kita berqurban dengan ayam atau bebek atau kelinci atau burung? Saya yakin semua menjawab tidak sah dan tidak boleh.

Jika kita sudah memahami bahwa berqurban dengan ayam, bebek atau burung itu tidak sah maka semestinya kita pun sudah memahami bahwa berqurban dengan Rp 10.000 atau Rp 50.000 atau Rp 100.000 pun tidak sah sekalipun dikumpulkan bersama teman lainnya.

Jika seseorang mengatakan : dari pada tidak berqurban lebih baik urunan Rp 50.000,-…kan bisa berqurban.?

Saya menjelaskan bahwa berqurban itu ibadah yang hukum dasarnya adalah haram dikerjakan tanpa dalil yang kuat. Sehingga kita tidak bisa menggunakan perasaan untuk menjalankan sebuah ibadah.

Jika kita mengerjakan sebuah ibadah dengan mengikuti perasaan saja dan tidak ada petunjuk wahyu yang melegalkannya maka yang kita dapatkan bukanlah pahala dan surga melainkan dosa dan neraka.

jika sebuah sekolah mengeluarkan edaran urunan qurban yang membebani murid untuk membayar Rp 50.000/siswa maka yang mereka lakukan bukanlah ber-qurban.

Urunan yang mereka lakukan tidak lain hanyalah membeli hewan untuk disembelih dan dimakan bersama. (buat nyate saja dan bukan ibadah qurban)

Mendidik dan mengajarkan siswa untuk mengenal dan mau berqurban tidak dengan cara sedemikian rupa. Namun harus dimulai dari diri masing-masing guru dan kepala sekolahnya sebagai contoh dan teladan. Siswa TK,SD,MI atau SMP dan SMK/SMA/ALIYAH bukanlah orang mampu dan terkena taklif berqurban. Mereka tidak memiliki harga hewan qurban untuk berqurban sehingga mereka harus menabung terlebih dahulu agar masing-masing memiliki kemampuan financial.

Jika mereka dapat konsisiten dalam menabung maka dalam satu tahun setiap siswa memiliki hewan qurban untuk disembelih pada hari raya idul adha. Begitulah hendaknya mengajarkan siswa untuk berqurban. Wallahu’alam.

3. Bolehkah seseorang itu berqurban padahal ia belum di aqiqahkan waktu lahir?
Pertanyaan itu adalah pertanyaan paling popular di negri ini. Untuk menjawabnya perlu memahami secara definitive tentang qurban dan aqiqah.

  • Aqiqah adalah sembelihan hewan ternak pada hari ke-7 dari kelahiran bayi jika mampu.
  • Qurban adalah sembelihan hewan ternak pada hari idul adha dan 3 hari tasyriq jika mampu.
  • Aqiqah adalah taklif untuk ayah dari bayi yang lahir dan bukan taklif kepada bayi.
  • Qurban adalah taklif kepada muslim yang baligh dan memiliki harga minimal hewan qurban.
  • Aqiqah bukanlah syarat untuk berqurban maka tidak ada hubungan satu sama lain.
  • Qurban dilakukan berulang setiap tahunnya jika memiliki kemampuan.

Dengan rincian di atas semoga kita telah memahami bahwa aqiqah tidak memiliki hubungan dengan qurban baik secara langsung maupun tidak langsung.
Maka seorang muslim dapat berqurban walaupun dirinya belum di sembelihkan hewan aqiqah saat lahir dahulu tanpa ragu dan khawatir akan sahnya pekerjaan tersebut. Wallahu’alam.

4. Bolehkah berqurban untuk orang yang telah meninggal dunia? Jika boleh…Sampaikah pahalanya untuk si mayit?

Memahami masalah ini mesti di dasari dengan dalil-dalil tekstual dan tidak hanya sebatas perkiraan dan asumsi. Untuk itu saya kemukakan teks yang menjelaskan tentang masalah di atas:
Hadist nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad dari Hanasy dari Ali bin Abi Thalib :

عَنْ حَنَشٍ ، عَنْ عَلِيٍّ ، قَالَ : أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أُضَحِّيَ عَنْهُ بِكَبْشَيْنِ ، فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَفْعَلَهُ وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْمُحَارِبِيُّ فِي حَدِيثِهِ : ضَحَّى عَنْهُ بِكَبْشَيْنِ وَاحِدٌ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَالآخَرُ عَنْهُ . فَقِيلَ لَهُ : فَقَالَ : إِنَّهُ أَمَرَنِي فَلا أَدَعُهُ أَبَدًا.

Artinya : Ali berkata: Rasulullah saw menginstruksikan kepada saya agar menyembelihkan 2 ekor domba atas nama beliau (setelah wafat) dan saya sangat senang menjalankan perintah tersebut dan tidak akan pernah saya mengabaikannya.

Hadist senada telah di catat oleh para perawi hadist dalam kitab mereka secara berulang sebanyak 29 kali dengan sedikit perbedaan redaksi mereka. Namun derajat hadist tersebut masih kontroversi anatara ulama hadist itu sendiri. Oleh karena kesohihan hadist ini dipertentangkan maka produk fatwa yang keluar dari para ulama fiqh pun menjadi kontroversial juga.

Dengan dasar hadist tersebut tanpa melihat kontrofersi yang ada dalam diskusi masalah di atas maka saya lebih cenderung untuk mengikuti pendapat yang membolehkan dengan beberapa pertimbangan:

a. Pendapat ulama hadist yang menolak tidak lebih kuat dari pendapat ulama hadist yang menerima hadist tersebut.

b. Suatu pekerjaan tetap memiliki landasan umum dari teks yang ada meskipun teks itu kontrofersial. Pekerjaan dengan dalil yang kontrofersi tidak dapat dikatakan sebagai pekerjaan bid’ah.
c. Dalam masalah sedekah atas nama mayit juga terdapat teks yang membolehkan, sementara berqurban atas nama mayit tak ubahnya dengan bersedekah atas nama mayit. Dengan begitu hadist berqurban atas nama mayit di kuatkan dengan hadist bersedekah atas nama mayit.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَشْيَاءَ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ».
HR.abu daud

Begitu juga hadist yang satu ini menegaskan adanya perolehan pahala bagi mayit jika orang yang hidup mengatasnamakan bagi orang yang sudah wafat.

عن عائشة رضي الله عنها : أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه و سلم إن أمي افتلتت نفسها وأظنها لو تكلمت تصدقت فهل لها أجر إن تصدقت عنها ؟ قال ( نعم )

HR.Bukhori
Substansinya : ….jika saya bersedekah atas nama ibu saya yang telah wafat apakah beliau akan mendapat pahala dari yang apa saya sedekahkan.? Nabi saw menjawab: YA.
Dengan demikian maka saya mengatakan bahwa berqurban atas nama mayit adalah pekerjaan yang masyru’ dan legal serta pahalanya akan sampai kepada orang yang ditujukan. Wallahu’alam.

5. Bagaimana pendapat ustaz tentang trend berqurban yang diselenggarakan oleh lembaga zakat?
Jawab : pada dasarnya berqurban itu adalah pekerjaan ibadah individu pada masing-masing keluarga mereka. Kita tidak pernah mendapatkan sejarah berqurban yang dilaksanakan dengan kepanitiaan dan kolektif. Begitu juga semua teks yang berbicara tentang pelaksanaan ibadah qurban berisi arahan-arahan yang ditujukan kepada masing-masing individu pequrban itu sendiri.

Contoh: praktik sembelih, adab sembelih, dan perlakuan terhadap daging hewan qurban pasca sembelih juga yang lainnya.

Semua arahan itu ditujukan kepada individu pequrban dan bukan sebuah kepanitiaan dan pekerjaan kolektif lainnya.

Ini tentu sangat berbeda dengan ibadah zakat yang jelas-jelas di arahkan untuk di kelola oleh lembaga dan kepanitiaan khusus yang di sebut dengan istilah AMIL ZAKAT.

Namun demikian bukan berarti kepanitiaan qurban itu diharamkan atau dilarang. Kepanitian qurban tentu saja dibenarkan dan dibolehkan karena membawa maslahat yang banyak untuk masyarakat luas. Banyak manfaat dari kepanitian pelaksanaan qurban yang ada di masyarakat.
Manfaat tersebut diantaranya :

  1. Ketertiban ibadah. Dengan kepanitiaan maka ibadah qurban menjadi tertib dan rapi.
  2. Ukhuwah islamiyah. Dengan kepanitiaan maka ummat jadi terlibat dalam interaksi positif yang membangun ukhuwah islamiyah.
  3. Kamudahan ibadah. Dengan kepanitiaan maka ibadah qurban menjadi mudah dijalankan.
  4. Tersebarnya manfaat secara luas. Dengan kepanitiaan maka jangkauan pembagian daging qurban akan lebih luas.

Dan masih banyak lagi manfaat kepanitaan qurban itu. Selain itu juga perlu kita catat bahwa tidak ada pengingkaran dari para ulama terhadap kepanitiaan qurban yang di bentuk oleh masyarakat sehingga menambah kekuatan legalitas dari kepanitiaan itu sendiri.

Siapakah yang menjadi panitia qurban?

Semua orang yang dewasa, laki-laki dan wanita yang mengerti urusan pengelolaan ibadah qurban dibolehkan untuk menjadi panitia qurban di sebuah komunitas.

Adapun lembaga zakat yang menjadi penyelenggara kolektif ibadah qurban yang disalurkan keberbagai daerah yang ada di Indonesia pada dasarnya bisa dibenarkan karena tidak ada batasan syariat untuk menjadi pengelola hewan qurban.

Meskipun begitu, menurut pengamatan penulis dari kerja lembaga zakat dalam pengelolaan ibadah qurban masih perlu diberikan koreksi-koreksi internal seperti: perubahan pola fikir qurban yang mengikuti pola fikir zakat, tercerabutnya konsentrasi pengelolaan zakat dengan kesibukan koleksi hewan qurban.

Dengan demikian maka sebaiknya muslim di negri ini membangun dan memiliki sebuah lembaga independent yang mengelola ibadah qurban secara lebih baik dan professional. Kita bisa mengusulkan sebuah lembaga nasional dengan nama LPQ NASIONAL yaitu lembaga pengelola qurban nasional.

Wallahu’alam.

Artikel sebelumnya Smart Berqurban 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *