Mencari Pemimpin Yang JujurPemimpin yang jujur adalah pemimpin yang mengundang keberkahan bagi masyarakat. Pemimpin yang jujur adalah pemimpin yang dapat menegakkan keadilan.Pemimpin yang jujur adalah pemimpin yang menepati janji-janji kampanyenya. Pemimpin yang jujur adalah pemimpin yang dapat menebar keamanan, kenyamanan dan kesejahteraan secara luas di seantero negeri.

Jujur adalah akhlak terpuji ditengah-tengah masyarakat kita. Jujur adalah kepribadian yang akan mengantarkan seseorang menjadi penghuni surga Allah swt. Islam telah mengajarkan dan memerintahkan manusia untuk berakhlak jujur (at-atubah:111). Para nabi dan rasul adalah contoh riil kepribadian jujur yang diperintahkan oleh Allah swt.

Namun demikian masyarakat kita belum memahami jujur dengan benar. Mereka menganggap bahwa jujur adalah berkata sesuai dengan kenyataan dan realita. Mereka juga beranggapan bahwa jujur adalah berkata apa adanya. Karena realita dapat diciptakan, kenyataan dapat direkayasa dan apa adanya adalah kebodohan yang nyata.

Memiliki media massa yang kuat membuat seseorang dapat merekayasa cerita dan realita. Jika anda memiliki kekuatan media massa maka anda dapat membuat hal yang remeh menjadi penting, hal yang jelek terlihat baik dan bagus, hal yang sedikit seakan-akan banyak, hal yang terpuji terlihat tercela. Itulah rekayasa media dalam menciptakan sebuah realita.

Anggapan masyarakat itu adalah anggapan yang sangat keliru dan menipu. Anggapan tersebut tidak memiliki sumber dan referensi yang kuat dan ilmiyah. Tidak juga didukung oleh ayat qur’an dan hadist nabi saw ataupun perkataan dan pemahaman para sahabat nabi radiallahu’anhu.

Kesalahan memahami jujur seperti itu dapat juga dilihat dari peristiwa berikut ini:

Pada masa nabi saw hidup, ada seseorang yang bernama ‘Amru bin Hisyam yang juga termasuk paman beliau. ‘Amru bin Hisyam ini telah dicitrakan sebagai seorang tokoh paling dihormati dan disegani. ‘Amru bin Hisyam selalu disebut sedang gelar “abul hakam” yang berarti sosok paling adil dan paling bijaksana. Dengan citra tersebut maka dia mampu membuat aturan-aturan, perintah dan larangan di tengah kota Makkah dan sekitarnya saat itu.

Namun, nabi saw tidak pernah mengikuti realita yang ada. Nabi saw tidak pernah menyebut pamannya ‘Amru bin hisyaam itu dengan sebutan yang dipakai oleh masyarakat arab saat itu. Justru sebaliknya, nabi saw menyebut ‘Amru bin Hisyam dengan sebutan yang sangat menjatuhkan martabat dan wibawanya di tengah masyarakat arab yaitu “abu jahal” yang berarti sosok paling bodoh dan bebal.

Siapakah yang jujur sesungguhnya dalam hal ini, nabi saw yang sudah memiliki gelar “al-amin” ataukah masyarakat arab saat itu?

Waktu membuktikan bahwa ‘Amru bin Hisyam adalah tokoh paling bodoh dan bebal, ia membawa masyarakat arab ke arah kehancuran, dia memerintahkan masyarakat untuk memboikot nabi Muhammad dan pengikutnya secara ekonomi dan social. Namun boikot itu berakhir dengan kebangkrutan para pebisnis quraisy saat itu.

Dia juga memutuskan untuk melakukan perang badar untuk menumpas ummat islam. Nasehat ‘Utbah bin rabiah yang mencegah perang dengan kaum muslimin di Badr tak dihiraukan.

Keputusan-keputusannya tidak dilandasi dengan pemikiran yang luas dan argumentative, keputusannya selalu dilandasi oleh kepentingan pragmatis pribadinya sendiri. Keputusan yang sangat merugikan masyarakat arab saat itu.

Dengan sederet keputusan yang merugikan masyarakat arab saat itu terbuktilah kebenaran nabi saw yang menyebutnya dengan “abu jahal” dan terbuktilah pada saat yang sama bahwa gelar “abul hakam” hanyalah sebuah pencitraan dan tidak substantive sama sekali.

Realita dan kenyataan yang kita dengar dan kita lihat di masyarkat bukanlah standar benar dan tidaknya keadaan. Realita itu bisa saja sebuah rekayasa dan propaganda yang sengaja dibuat oleh orang-orang yang memiliki banyak harta dan memegang kendali kekuasaan publik.

Memiliki kekuasaan ekonomi dan politik yang besar akan memudahkan seseorang dengan kelompoknya untuk membuat sebuah opini yang diinginkan. Yang benar akan dibuat terlihat salah dan sebaliknya yang salah akan dicintrakan melalui media sebagai hal yang benar. Urusan tidak penting akan terlihat menjadi penting jika terus menerus di blow up oleh media-media yang ada. Begitulah rekayasa kondisi itu dilakukan dan dibuat oleh sekelompok orang demi kepentingan mereka.

DEFINISI JUJUR

Orang yang pernah mendapatkan “gelar sebagai orang jujur” adalah Abu Bakr bin Abi Kuhafah alias ABU BAKR AS-SIDDIQ. Dalam pidato Perdana beliau setelah di bai’at menjadi khalifah pertama bagi ummat islam beliau berkata: “ assidqu amanah wal kazibu khiyanah” artinya : JUJUR ADALAH BERKOMITMENT DENGAN AMANAH dan DUSTA ITU ADALAH BERKHIANAT DENGAN AMANAH. Apakah arti amanah yang beliau maksud? Jawaban akan kita dapatkan di dalam ayat al-qur’an surah al-ahzab:72 dan al-hasyr: 22. Al-amanah artinya perintah dan larangan di dalam al-qur’anul karim dan sunnah nabi saw. (tafsir al-maroghi)

Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa orang jujur adalah orang yang berkomitment dengan perintah dan larangan yang ada di dalam al-qur’an dan sunnah. Orang jujur bukanlah orang yang berkata sesuai dengan kenyataan atau realita.

JUJUR DI KANCAH POLITIK

Tahun 2018 dan 2019 banyak disebut sebagai tahun politik karena banyaknya penyelenggaraan pilkada dan juga pileg dan pilpres.Biasanya saat kampanye pilkada dan pilpres partai-partai mengajukan calon masing-masing. Mereka berusaha mencitrakan agar calon yang mereka usung adalah tokoh yang jujur agar mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Selama ini propaganda dan pencitraan tersebut selalu sukses. Masyarakat termakan oleh opini yang digulirkan melalui media televisi khususnya sehingga tokoh yang dimaksud benar-benar dianggap sebagai orang yang jujur dan ia naik menjadi presiden atau gubernur dan lainnya.

Apa yang di jumpai masyarakat dari presiden dan gubernur yang di citrakan sebagai orang jujur tersebut setelah ia terpilih? Sangat menyedihkan dan sangat mengecewakan. Presiden dan gubernur itu tidak bekerja untuk rakyat seperti janjinya. Ia justru bekerja dan membela mati-matian kepentingan asing dan aseng yang menjajah Indonesia.

Kini masyarakat harus membayar mahal atas kekeliruan mereka dalam memahami jujur dan orang jujur. Bahan bakar minyak terus naik dan semakin mahal, harga-harga bahan pokok juga terus meninggi dan semakin mahal. Informasi media yang tidak objektif disodorkan dan dijejalkan ke benak rakyat, benih-benih pemahaman dan ideologi komunisme terus di kembangkan dan dilindungi, ceramah dan pencerahan agama islam di sweeping dan dibubarkan.

Para guru dan ulama serta habaib terus menjadi objek tersakiti dan tertuduh dengan kriminalisasi yang terus digencarkan. Pembunuhan karakter seorang ulama yang kritis terhadap pemerintah menjadi agenda penting seorang presiden dan gubernur. Kecuali habaib, ustadz, guru dan ulama yang menjadi penjilat rezim berkuasa.

Mari perbaiki pemahaman kita tentang arti jujur dan siapakah orang jujur itu. Pemahaman yang benar tentang jujur dan orang jujur akan menyelamatkan bangsa dan negara ini dari kehancuran yang lebih parah.

Pemimpin yang jujur jujur adalah orang yang berkomitment dengan perintah dan larangan serta arahan yang ada di dalam al-qur’an dan sunnah. Pemimpin yang jujur akan lahir dari masyarakat yang jujur dan masyarakat yang jujur bermula dari keimanan yang kokoh dan kuat lalu akan membuahkan sebuah komitment terhadap al-qur’an dan sunnah.

Wahai orang yang beriman……wahai para pecinta keadilan……wahai para perindu kedamaian dan kesejahteraan…..Sesungguhnya rasulullah saw telah mengingatkan kita semua, beliau bersabda:

"ORANG BERIMAN ITU ADALAH ORANG YANG TIDAK TERPEROSOK DUA KALI KEDALAM SATU LUBANG YANG SAMA."

Mungkin tahun 2014 yang lalu kita telah tertipu dalam memilih pemimpin negeri ini. Namun tahun 2019 esok kita tidak boleh lagi tertipu untuk yang kedua kalinya. Mari berikhtiar dan mari berdoa kepada yang maha kuasa, Allah ‘azza wa jalla yang menggenggam kekuasaan di langit dan di bumi semoga kita dapat menemukan seorang pemimpin yang jujur dan mampu mewujudkan keadilan di bumi Indonesia ini. Amin yaa rabbal ‘alamin.

Oleh
Ahmad Bisyri Syakur, MA.
Konsultan Waris Islam Zaid Bin Tsabit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *