Oleh
Ustadz Ahmad Bisyri, Lc, MA
Penulis Buku Fiqih, Konsultan dan Trainner Waris Islam

Pendahuluan

Memperlakukan Kulit Hewan QurbanSetiap tiba musim ibadah qurban kita akan selalu dihadapkan dengan munculnya permasalahan kulit hewan qurban pasca penyembelihan. Masalah tersebut muncul karena kulit hewan qurban tidak selalu bisa di konsumsi seperti layaknya daging atau jeroan atau tulang. Kulit kambing atau domba tentu tidak ada yang mengkonsumsinya sebagai makanan, apakah lantas dibuang sebagai sampah?

Kulit sapi atau kerbau juga tidak semua orang mampu mengolahnya menjadi makanan atau keperluan hidup lainnya seperti sepatu, tas dan sejenisnya.

Pertanyaan masyarakat yang sering muncul adalah bolehkan kulit hewan qurban tersebut dijual kepada orang yang mampu mengolahnya?

Bolehkah kulit hewan tersebut dihadiahkan saja kepada jagal? Atau dihitung sebagai upah kerja jagal? Atau diberikan kepada pengrajin secara Cuma-Cuma alias dibuang agar bermanfaat?

Text Syariat Terkait Masalah Kulit Hewan Qurban

1. Seluruh bagian tubuh hewan qurban itu hendaknya dibagikan, mulai dari daging hingga kulitnya.
وحدثني محمد بن حاتم بن ميمون ومحمد بن مرزوق وعبد بن حميد ( قال عبد أخبرنا وقال الآخران حدثنا محمد بن بكر ) أخبرنا ابن جريج أخبرني الحسن بن مسلم أن مجاهدا أخبره أن عبدالرحمن بن أبي ليلى أخبره أن علي بن أبي طالب أخبره أن نبي الله صلى الله عليه و سلم أمره أن يقوم على بدنة وأمره أن يقسم بدنه كلها لحومها وجلودها وجلالها في المساكين ولا يعطي في جزارتها منها شيئا

Artinya : Ali bin abi tolib membaritakan bahwa nabi saw memberikan perintah kepada dirinya untuk : mendistribusikan unta yang telah disembelih secara utuh mulai dari dagingnya, jeroannya dan kulitnya kepada masyarakat (orang miskin) dan tidak menjadikannya sebagai upah jagal sedikitpun. (HR.Muslim)

2. Menjual kulit hewan qurban dan memilikinya kembali menjadikan ibadah qurbannya tertolak.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من باع جلد أضحيته فلا أضحية له
هذا حديث صحيح مثل الأول و لم يخرجاه
تعليق الذهبي قي التلخيص : ابن عياش ضعفه أبو داود

Artinya : Abu Hurairah RA bercerita bahwa nabi saw bersabda: seseorang yang menjual kulit hewan qurbannya maka tidak sah ibadah qurban baginya. (HR.Al-hakim dan al-baihaqi)

Menurut hakim hadist itu sohih dengan standar bukhori dan muslim walaupun bukhori dan muslim tidak mencatatnya dalam kitab mereka.

Imam az-zahabi memberikan komentar terkait hadist tersebut bahwa ibnu ‘ayyasy menilai bahwa hadist tersebut lemah.

Pemahaman Saya Tentang Hadits Tersebut

Hukum dasar kulit hewan kurban sama dengan hukum dagingnya, jeroannya dan tulangnya yaitu sebagai konsumsi bagi masyarakat.

Oleh karena itu kulit hewan dan bagian lain yang dapat dikonsumsi dapat diperlakukan sesuai kemaslahatan setempat. contoh : kulit dipotong kecil-kecil dan dibagi seperti daging.

Jika masyarakat tidak mau atau tidak bisa mengkonsumsi kulit tersebut secara langsung maka kulit itu bisa dijual lalu harganya dibagikan dan dikonsumsi secara luas dalam bentuk bumbu masak atau dalam bentuk lainnya.

Kulit hewan qurban tidak dapat dijual untuk kembali pada pribadi dan tidak dapat dihibahkan sebagai ongkos potong.

Arahan Ulama Tentang Masalah Kulit

1. Kulit hewan qurban boleh dijual dan hasil penjualannya dibagikan kepada masyarkat seperti pembagian daginnya. (al-auza’I, imam ahmad, ishaq ibnu rohawaih dan abu tsaur)
أنه يجوز بيع الجلد ويصرف ثمنه مصرف الأضحية

Artinya : boleh menjual kulit hewan qurban dan membagikan hasil penjualannya seperti pembagian daginnya. (roudhatuttolibin, jilid 1 halaman 361)

2. Kulit hewan qurban juga boleh dijual jika terlihat ada kemaslahatan dalam penjualannya.

ورخص في بيعه أبو ثور وقال النخعي والاوزاعي لا بأس أن يشتري به الغربال والمنخل والفأس والميزان ونحوها

Artinya : para ulama seperti abu tsaur, an-nakhou dan al-awza’I berkata: boleh saja menjual kulit hewan qurban kepada mereka yang bisa memanfaatkannya seperti pengrajin kulit dan pengepul. (kitab al-majmu’ jilid 8 halaman 420)

Pandangan Saya Terhadap Arahan diatas

1. Hal yang disepakati adalah haram menjual kulit hewan qurban oleh pequrban (pemilik hewan qurban) untuk dimiliki kembali.
2. Hal tidak disepakati adalah haram menjual kulit hewan qurban oleh orang lain bukan pequrban untuk sebuah kemaslahatan.

Dengan demikian sangat jelas bagi pembaca bahwa panitia qurban di banyak tempat boleh menjual kulit hewan qurban yang terkumpul dan tidak bisa dikonsumsi oleh masyarakat secara langsung kepada orang-orang yang bisa memanfaatkan dan mengolahnya.

Keharaman penjualan kulit hewan qurban yang banyak difatwakan oleh ulama klasik bertumpu kepada keharaman kembalinya uang hasil penjualan kulit tersebut kepada dirinya yaitu pequrban sendiri. Wallahu’alam.

Artikel sebelumnya Menjawab Permasalahan Seputar Qurban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *