Motivasi Waris Islam 13
Oleh: Ustadz Ahmad Bisyri syakur, MA
Konsultan Waris Zaid Bin Tsabit

Ada satu cerita menarik tentang melepaskan hak waris dengan alasan ikhlas . Cerita ini saya angkat untuk memberikan pelajaran kepada kita semua bahwa ikhlas itu bukanlah yang terucap di lisan seseorang:
“saya ikhlas kok”

Suatu hari saya diundang oleh sebuah keluarga di sekitar JABODETABEK untuk menyelesaikan pembagian harta waris seorang bapak yang telah meninggal dunia. Saya selalu kagum dan memberikan apresiasi jika ada sebuah keluarga yang mau mentaati hukum Allah swt dalam pembagian warisan keluarganya.

Salah seorang anggota keluarga menjemput saya di rumah untuk bersama-sama pergi ke kediaman almarhum untuk kepentingan pembagian warisan.

Singkat cerita, saya sampai di rumah kediaman al-marhum, saya disambut oleh anggota keluarga lainnya yang memang sudah lama menunggu. Setelah bersalam-salaman dan bermujamalah ala kadarnya maka acarapun di mulai.

Dibuka dengan basmalah lalu disambung dengan sambutan salah seorang anggota keluarga yang mewakili keluarga seluruhnya.

Dalam sambutannya wakil keluarga menceritakan tentang ahli waris yang ditinggalkan oleh almarhum serta jumlah total seluruh harta waris yang ditinggalkan.

Total harta warisan adalah Rp.850.000.000,00 dan ahli warisnya adalah 1 orang istri dan 2 anak laki-laki serta 3 anak perempuan.

Setelah penjelasan tersebut kemudian wakil keluarga memberikan waktunya dan mempersilahkan saya untuk menjelaskan perihal membagi harta warisan keluarga mereka sesuai syariat Islam.

Dengan memberikan rasa hormat kepada seluruh keluarga saya pun memulai pembagian harta waris keluarga mereka.

Saya mengawali acara pembagian harta warisan keluarga dengan memberikan pencerahan singkat tentang ilmu faroidh. Setelah pencerahan saya anggap cukup , sayapun mulai menghitung-hitung jatah masing-masing yaitu istri mendapatkan jatah 1/8 dari seluruh harta warisan. Lalu sisanya (7/8) menjadi milik 2 anak laki-laki dan 3 anak perempuan sebagai ‘asobah lalu dibagi dengan ketentuan Al-Quran untuk anak laki-laki dan perempuan yaitu 2:1 artinya jatah anak laki-laki dua kali lipat dari pada jatah anak perempuan.

Sebelum saya menghitung pembagian harta warisan sesuai dengan ketetapan Al-Quran yang telah saya jelaskan di atas tiba-tiba seorang anak perempuan almarhum mengatakan : “ustadz, jatah warisan saya gak usah dimasukkan dalam hitungan, anggap saja saya gak ada. Saya ingin memberikan jatah warisan saya itu kepada saudara-saudari saya yang lain karena Alhamdulillah saya sudah berkecukupan, saya ikhlas kok ustaz”

Mendengar interupsi tersebut saya tersenyum lalu merespon:
“subhanallah, begitu mulia hati ibu..!, walaupun begitu saya mohon maaf tidak bisa mengabulkan permintaan ibu tadi karena kita wajib membagi harta warisan sesuai ketetapan syariat Islam, jatah ibu tetap dihitung dan ibu tetap mendapatkan jatah warisan itu sebagaimana ketentuan yang ada di dalam Al-Qur’an.

Jika ibu memang ingin memberikan jatah tersebut kepada saudara dan saudari ibu maka hal itu bisa ibu lakukan setelah pembagian warisan ini dan telah ibu kuasai sepenuhnya sebagai kepemilikan yang sah”.
Dengan tersenyum ibu itu pun mengangguk setuju.

Saya langsung memulai untuk menghitung pembagian warisan keluarga mereka sebagai berikut:

Bagian waris istri adalah 850.000.000,-x 1/8 (12,5%) = Rp 68.000.000,00

Bagian anak lk dan pr adalah 850.000.000- 68.000.000 = Rp 782.000.000
Kemudian Rp 782.000.000 : 7 (jumlah saham anak lk+pr)= Rp 111.714.286

Maka jatah anak laki-laki masing-masing sebesar : Rp 111.714.286 x 2 = Rp 223.428.572

Sedangkan masing-masing anak perempuan mendapatkan jatah 111.714.286 x 1 =
Rp 111.714.286.

Setelah menunjukkan hasil pembagian warisan, saya ingat pada anak perempuan almarhum yang berhati mulia itu.

Saya mengatakan : inilah jatah waris ibu yang sah menjadi milik ibu secara syariat Islam. Sekarang ibu sudah bisa untuk merealisasikan apa yang ibu sampaikan di depan, ingin membagikan jatah kepada saudara dan saudari ibu…tafaddoli ! saya berujar menyemangati.

Ibu itu kemudian merespon, “eee…maaf ustadz, saya tanya suami dulu deh.!!

Mendengar ucapan tersebut, anggota keluarga yang lain pun tersenyum.

Di awal cerita seseorang mengumumkan bahwa dirinya ikhlas, namun di akhir cerita ia berubah fikiran dan menarik kembali statement yang telah di ucapkan sebelumnya.

Pelajaran penting yang menjadi mutiara untuk kehidupan kita dari cerita di atas, bahwa keikhlasan hati untuk memberi kepada orang lain tidak bisa diterima dan dipercaya hanya dengan mengucapkan : saya ikhlas kok…

Keikhlasan adalah rahasia antara hamba dan Allah swt. Tidak ada orang yang dianggap ikhlas hanya dengan ungkapan lisan semata. Keikhlasan seseorang justru akan terlihat dengan sendirinya dari prilaku dan tindak-tanduknya dalam berbuat kebaikan.

Wallahu ‘alam

Berikutnya Motivasi Waris Islam 14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *