Pengantar

Masalah talqin jenazah di kuburMengurus jenazah sebenarnya adalah masalah yang sudah familiar dan banyak dilakukan di masyarakat. Dalam ajaran islam mengurus jenazah hukumnya fardu kifayah yaitu kewajiban yang bersifat kolektif, kewajiban kifayah ini akan gugur jika seseorang telah mengerjakannya.

Nabi Muhammad saw telah mengajarkan kita untuk mengurus jenazah secepat mungkin dengan alasan jika seseorang yang meninggal dunia itu adalah orang soleh dan dikenal banyak kebaikannya oleh masyarakat berarti kita tidak menundanya untuk segera menerima hak nikmat kubur secepatnya, dan jika seseorang yang meninggal dunia itu adalah orang tidak soleh dan dikenal banyak kejahatannya di tengah masyarakat maka kita yang masih hidup tidak mendapatkan efek buruk dari siksa kubur yang akan segera di terimanya.nabi bersabda :

عن أبي هريرة قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول  : أسرعوا بالجنازة فإن كانت صالحة قربتموها إلى الخير وإن كانت غير ذلك كان شرا تضعونه عن رقابكم  (HR.BUKHORI DAN MUSLIM)

Artinya : segerakanlah mengurus seorang jenazah karena jika ia soleh berarti kalian telah tunaikan haknya dan jika ia tidak soleh berarti beban kalian telah lepas.

Dalam hadist di atas terlihat jelas tidak adanya perbedaan untuk disegerakan antara jenazah yang soleh dan tidak soleh, semua harus diurus segera.

Selanjutnya, Dalam hal penguburan jenazah kita melihat adanya praktek dan ritual tertentu di masyarakat yaitu men-talqin dan mengumandangkan azan. Bagaimanakah kedudukan hokum dan legalitas dari kedua ritual penguburan tersebut?

Ada sebuah hadist yang di riwayatkan oleh Abu Daud yang menceritakan tentang kejadian di alam kubur pasca prosesi penguburan telah selesai sebagai berikut:

4755 حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ ح وَحَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِىِّ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ – وَهَذَا لَفْظُ هَنَّادٍ – عَنِ الأَعْمَشِ عَنِ الْمِنْهَالِ عَنْ زَاذَانَ عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ : خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ وَلَمَّا يُلْحَدْ فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرُ وَفِى يَدِهِ عُودٌ يَنْكُتُ بِهِ فِى الأَرْضِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ : « اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ». مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا – زَادَ فِى حَدِيثِ جَرِيرٍ هَا هُنَا – وَقَالَ : « وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ حِينَ يُقَالُ لَهُ : يَا هَذَا مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ ». قَالَ هَنَّادٌ قَالَ : « وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ : رَبِّىَ اللَّهُ. فَيَقُولاَنِ لَهُ : مَا دِينُكَ فَيَقُولُ : دِينِى الإِسْلاَمُ. فَيَقُولاَنِ لَهُ : مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِى بُعِثَ فِيكُمْ قَالَ فَيَقُولُ : هُوَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَيَقُولاَنِ : وَمَا يُدْرِيكَ فَيَقُولُ : قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ ».

زَادَ فِى حَدِيثِ جَرِيرٍ : « فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا) ». الآيَةَ. ثُمَّ اتَّفَقَا قَالَ : « فَيُنَادِى مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ : أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِى فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ ». قَالَ : « فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا ». قَالَ : « وَيُفْتَحُ لَهُ فِيهَا مَدَّ بَصَرِهِ ». قَالَ : « وَإِنَّ الْكَافِرَ ». فَذَكَرَ مَوْتَهُ قَالَ : « وَتُعَادُ رُوحُهُ فِى جَسَدِهِ وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنِ : مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى.

فَيَقُولاَنِ لَهُ : مَا دِينُكَ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى. فَيَقُولاَنِ : مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِى بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى. فَيُنَادِى مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ : أَنْ كَذَبَ فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ ». قَالَ : « فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا ». قَالَ : « وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ ». زَادَ فِى حَدِيثِ جَرِيرٍ قَالَ : « ثُمَّ يُقَيَّضُ لَهُ أَعْمَى أَبْكَمُ مَعَهُ مِرْزَبَّةٌ مِنْ حَدِيدٍ لَوْ ضُرِبَ بِهَا جَبَلٌ لَصَارَ تُرَابًا ». قَالَ : « فَيَضْرِبُهُ بِهَا ضَرْبَةً يَسْمَعُهَا مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ فَيَصِيرُ تُرَابًا ». قَالَ : « ثُمَّ تُعَادُ فِيهِ الرُّوحُ ».

Artinya: dari al-barro’ bin ‘azib bercerita: saat kami mengikuti sebuah prosesi jenazah seorang sahabat ansor kami melihat nabi saw duduk di sisi kubur jenazah lalu kamipun duduk di sekelilingnya, beliau memegang sebatang kayu kecil dan menusuk-nusukkannya ke tanah kemudian beliau mengangkat kepala dan mulai bersabda: berlindunglah kalian dari azab kubur (2x) lalu beliau melanjutkan : sesungguhnya jenazah itu mendengar bunyi suara tapak sandal yang berjalan pulang, dan saat itu jenazah akan dihadapkan dengan pertanyaan: wahai, siapakah tuhanmu? Apakah agamamu? Dan siapakah nabimu? Hannad bercerita; beliau bersabda:saat itu datanglah dua sosok malaikat yang duduk di badan jenazah dan bertanya : siapakah tuhan yang kau imani? Jenazah menjawab: tuhanku adalah Allah, kedua malaikat bertanya lagi: apakah agama yang kau yakini? Jenazah menjawab: agamaku adalah islam, keduanya bertanya lagi: apakah posisi seorang laki-laki yang menyeru diantara kalian? Jenazah menjawab; dia adalah rasulullah, keduanya bertanya lagi: dari mana kau ketahui kenabian dan kerasulannya? Jenazah menjawab: aku membaca kitabullah lalu aku percaya dan membenarkannya.

Saat itu terdengar seruan dari langit: sesungguhnya hambaku ini telah menjawab dengan benar, maka bentangkan jalan menuju kenikmatan surge untuknya. Lalu terbukalah jalan menuju surge dan menebarlah semerbak wangi surge sejauh mata memandang.

Dan sesungguhnya jenazah kafirpun akan di datangi dua malaikat yang duduk di badannya dan bertanya: siapakah tuhanmu? Jenazah kafir menjawab: hah..hah..lalu ditanya lagi: apakah agama yang kau yakini? Jenazah kafir menjawab: hah..hah…hah..lalu ditanya lagi apakah posisi seorang laki-laki yang menyeru diantara kalian? Jenazah kafir menjawab: hah…hah…saya tidak pernah kenal.

Saat itu terdengarlah seruan dari langit: sesungguhnya manusia ini telah mendustai semuanya, bentangkan jalan baginya menuju neraka dan segala azabnya, saat itu hembusan panas neraka menyerangnya dan kuburnya langsung menyempit hingga tulang-tulang rusuknya saling beradu.lalu dipukullah jenazah kafir itu dengan sangat keras hingga hancur menjadi tanah lalu dikembalikan ruhnya dan begitu seterusnya.

Dalam hadist di atas sangat jelas keterangan dari nabi saw bahwa pasca penguburan jenazah terjadi proses hisab kubur secara umum yang akan menentukan nikmat atau azab di kubur tersebut.

Mungkin berlandaskan hadist tersebut sebagian orang berkesimpulan: “oh kalo gitu jenazah harus diajarkan/talqin setelah di kuburkan” maka dibuatlah teks untuk mentalqin jenazah setelah dikuburkan.

Dalam pandangan saya adalah benar bahwa seseorang yang telah meninggal akan dikembalikan lagi ruhnya setelah prosesi penguburan usai, ia mendengar suara sandal dan langkah kepulangan orang-orang yang mengantarkannya ke rumah masing-masing.

Ketika rasulullah saw memberitakan suasana kubur pasca penguburan usai-dalam hadist di atas-, beliau tidak mengajarkan agar kita mendiktekan/mentalqin si mayit agar bisa menjawab pertanyaan dua sosok malaikat. Rasulullah saw memberikan isyarat dalam hadist di atas agar setiap orang mempersiapkan diri saat kematian datang dengan memperbanyak dan membiasakan berkata baik dan bersikap baik karena dengan kebiasan baik itulah seseorang akan mampu menjawab pertanyaan dua malaikat kubur tersebut dan bukan dengan ditalqinkan atau diajarkan walaupun jenazah itu dapat mendengar perkataan orang yang hidup.

Begitu juga ringannya dosa seseorang akan menjadikan ia mampu untuk berbicara lugas dan menjawab dengan benar. Untuk kepentingan itulah kita temukan dalam hadist riwayat abu daud beliau bersabda : beristighfarlah untuk saudara kalian ini karena saat ini ia sedang menghadapi pertanyaan malaikat”.

3223 – حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِىُّ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَحِيرٍ عَنْ هَانِئٍ مَوْلَى عُثْمَانَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ « اسْتَغْفِرُوا لأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ فَإِنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ بَحِيرُ بْنُ رَيْسَانَ.   HR.Abu Daud 

 Begitulah rasulullah saw mengajarkan untuk menolong saudara kita yang sedang menghadapi pertanyaan malaikat.

Oleh karena itu saya ingin merekomendasikan kepada para ustad dan kyai yang selalu rajin mengayomi dan mengajarkan masyarakat hendaklah memberikan pemahaman yang lurus dan dapat diterima oleh akal sehat, pemahaman yang mencerahkan dan tidak hanya memberikan doktrinasi tanpa dasar dan argumentasi yang benar.

Menjadi tugas para guru dan asatidz serta serta para kyai untuk tidak membiarkan masyarakat mengikuti tradisi dan budaya setempat tanpa difahami dan difahamkan dengan baik kepada mereka. Mengajarkan yang tidak logis tanpa kekuatan dalil yang valid hanya akan menjadi beban guru dan asatidz serta kyai tersebut di hadapan Allah swt pada hari kiamat nanti.

Semoga Allah swt memberikan kesadaran dan keselamatan kepada kita semua ,amin.

Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *