Masalah tahlilanTahlilan adalah istilah untuk menyebut suatu acara yang selalu dikumandangkan lafazd tahlil “laa ilaaha illa Allah”. Acara tahlilan banyak dilaksanakan di masyarakat muslim betawi/Jakarta, sebagian muslim di jawa barat, jawa tengah dan jawa timur juga sebagian muslim di pulau Sumatra. Di timur tengah acara semacam tahlilan tidak pernah ada kecuali di kalangan kaum sufi ahli tarekat yang gemar berkumpul untuk berzikir secara berjamaah.

Acara tahlilan ini selalu mengumpulkan orang banyak dan membagikan sembako atau makanan siap santap yang disebut dengan (berkat) sedekah. Acara ini biasa diadakan dengan sebab tertentu seperti adanya kematian anggota keluarga, hajat pergi haji, menjelang pernikahan, atau ungkapan syukur dari sebuah nikmat besar yang diterima oleh sebuah keluarga. Tahlilan juga sering menghiasi acara aqiqah, acara mauled, acara ulang tahun dan lainnya.

Sebagian masyarakat menjadikan tahlilan sebagai menu resmi sebuah hajatan yang digelar, tidak lengkap sebuah acara bagi mereka jika tidak di dahului dengan tahlilan. Sedangkan sebagian masyarakat yang lain bersikap antipati dan menentang keras di adakannya acara tersebut.

Bagaimanakah posisi tahlilan dalam hukum fiqh?

Sebagian masyarakat yang gemar mengadakan tahlilan mengatakan bahwa dalam acara tersebut tidak ada yang melanggar syariat walaupun mereka juga mengetahui dan memahami bahwa nabi Muhammad saw tidak pernah mengadakan acara tersebut.

Sedangkan sebagian yang menentang acara tahlilan mengatakan bahwa acara itu adalah ibadah dan ibadah tidak boleh dilakukan tanpa legalitas dari nabi saw, mereka menganggap bahwa mengadakan ibadah tanpa legalitas dari nabi saw adalah perbuatan bid’ah yang diancam sebagai ahli neraka.

Pandangan saya terhadap kedua versi di atas mengenai tahlilan adalah sebagai berikut:

  1. Kita harus menyamakan persepsi terlebih dahulu tentang bid’ah.
  2. Kita juga harus menyamakan persepsi terlebih dahulu tentang sunnah.
  3. Jika pengertian dan pemahaman kedua versi di atas masih berseberangan tentang bid’ah dan sunnah maka diskusi tidak bisa dillanjutkan.
  4. Jika kita sepakat bahwa bid’ah adalah suatu perkara yang tidak memiliki landasan hokum sama sekali (bukan kontrovesial) maka diskusi bisa kita lanjutkan.
  5. Mereka yang mengadakan tahlilan tidak pernah menyatakan atau mengakui bahwa tahlilan yang mereka lakukan itu tidak ada dalil syar’inya.
  6. Sementara mereka yang menentang acara tahlilan juga tidak pernah mau mendengar dan memahami dalil pelaksanaan tahlilan dan cenderung mengabaikan dan meremehkan dalil pelaksanaan tahlilan tersebut.

Pandangan saya terhadap acara tahlilan itu sebagai berikut:

  1. Mengumpulkan banyak orang untuk suatu kepentingan pribadi kita bukanlah hal yang terlarang.
  2. Acara tahlilan jangan di lihat dari sisi dicontohkan atau tidak oleh rasulullah saw karena tidak semua yang dikerjakan nabi wajib diikuti dan tidak semua urusan yang tidak dicontohkan oleh beliau adalah terlarang.
  3. Acara tahlilan substansinya adalah membaca surat yaasin lalu beberapa surat-surat pendek, lalu membaca lafaz-lafaz zikir yang ma’tsur, lalu ditutup dengan doa untuk keluarga yang hidup dan keluarga yang telah meninggal dunia.
  4. Catatan saya untuk masyarakat yang mengadakan acara tahlilan itu hendaknya dapat mengambil manfaat untuk kebaikan keluarga mereka ke depan serta tidak menyusahkan diri dengan pinjaman dana yang berat untuk dikembalikan.
  5. Catatan saya untuk masyarakat yang tidak suka dengan acara tahlilan hendaknya dapat bertoleransi dan berlapang dada karena masalah tahlilan adalah masalah yang bisa didiskusikan dan bukan harga mati.

Demikian pandangan saya tentang masalah tahlilan semoga dapat mempersatukan masyarakat muslim khususnya di Indonesia.

Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *