Pengantar

Perayaan dan peringatan mauled nabi Muhammad saw selalu di rayakan di banyak tempat di seluruh muka bumi. Namun demikian tidak sedikit ummat islam/ulama yang tidak suka dan tidak setuju terhadap perayaan itu dengan berbagai alasan yang mereka miliki bahkan tidak jarang sebagian orang itu yang menghakimi pelaku perayaan maulid sebagai pelaku bid’ah yang sesat dan menyesatkan banyak orang sehingga mereka memastikan pelaku perayaan maulid akan masuk neraka jahannam.

Masalah perayaan maulid nabi sawPerdebatan tentang legalitas maulid akan lebih seru pada saat-saat kampanye partai politik berlangsung, pelaku maulid menggunakan maulid untuk penggalangan masa dan pemenangan pemilu, mereka tidak merasa risih untuk mengahabisi lawan politiknya dengan tuduhan “anti maulid” yang tidak mencintai nabi Muhamad saw sehingga tidak perlu di pilih dan harus kalah dalam pemilu yang digelar.

Ketakutan yang sangatpun terjadi di kalangan yang tidak setuju dengan perayaan maulid sehingga memaksa mereka ikut-ikutan merayakan maulid nabi demi mendapatkan simpati massa dan memenangkan pemilu. Mereka ramai-ramai mengeluarkan dana dengan sangat royal untuk perayaan maulid yang berorientasi politik pragmatis.

Itulah fenomena muslim indonesia dan perdebatan tentang perayaan maulid nabi Muhammad saw yang tidak obyektif dan mengikuti hawa nafsu.

Saya tidak ingin membahas perayaan maulid ini untuk kepentingan politik sebuah partai politik tertentu, pembahasan yang ada akan berfokus pada argumentasi ilmiyah antara yang pro dan yang kontra perayaan maulid ini lalu mencari benang merah yang bisa menyatukan kedua pandangan yang berbeda dalam perayaan maulid nabi ini.

APAKAH PERAYAAN ITU?

Perayaan adalah sebuah upacara/seremonial yang dilaksanakan karena sebab tertentu. Perayaan juga dilakukan secara berulang dalam waktu yang relatif sama. Dalam ajaran islam banyak sekali perayaan yang diajarkan seperti perayaan berakhirnya puasa ramadhan yang disebut dengan idul fitri, perayaan penyembelihan hewan qurban yang disebut dengan udhiyah atau idul adha, perayaan yang berkaitan dengan kelahiran seorang bayi yang disebut dengan aqiqah, perayaan yang berkaitan dengan nikah disebut walimatul’arus dan lain sebagainya.

Sebuah Perayaan dalam ajaran islam bukanlah sesuatu yang asing sehingga harus di musuhi dan ditentang selama dalam praktek perayaannya tidak ada pekerjaan yang bertentangan dengan syariat islam, bahkan rasulullah saw pun melakukan perayaan setiap pernikahan beliau dengan seorang wanita. Apapun nama perayaan itu bukanlah hal fundamental karena islam melihat substansi dan bukan kemasan.

APAKAH MAULID NABI ITU?

Maulid atau maulud/milad adalah tiga kosa kata dalam bahasa arab yang berarti waktu kelahiran. Kalimat itu bisa dipakai untuk kelahiran siapapun, baik seorang nabi atau bukan nabi. Tidak ada yang istimewa dari kosa kata mauled karena bisa dipakai secara terbuka dan tidak ada pengkhususan sama sekali.

Maulid nabi adalah hari kelahiran nabi Muhammad saw pada tanggal 12 rabiul awal tahun gajah, sekitar tahun 571 masehi. Maulid nabi selanjutnya diperingati secara tidak langsung oleh nabi Muhammad saw itu sendiri dengan melakukan puasa sunnah pada hari senin secara rutin. Hal itu disebut dalam sebuah hadist muslim dan Ahmad dari Abu Qotadah al-ansory:

وسئل عن صوم الاثنين ؟ قال ذاك يوم ولدت فيه ويوم بعثت

Artinya : nabi di Tanya kenapa beliau rutin berpuasa di hari senin? Beliau menjawab: hari senin adalah hari kelahiranku dan hari aku menjadi utusan Allah.

Hadist ini merupakan salah satu hadist yang dijadikan landasan legalitas peringatan mauled nabi Muhammad saw oleh sebagian kalangan masyarakat.

Peringatan mauled nabi juga sangat efektif untuk mengumpulkan masyarakat muslim dan memberikan nasehat kepada mereka agar dapat lebih semangat meneladani kehidupan nabi dan para sahabat untuk kehidupan mereka sekarang.

Tidak dapat dipungkiri juga bahwa ada sebagian muslim yang melakukan penyelewengan syariat dalam memperingati mauled nabi tersebut diantaranya, melempar-lempar makanan di tengah kerumunan masa, melakukan joget-joget erotis antara pria dan wanita, namun sangat tidak tepat untuk menjadi alasan pelarangan memperingat mauled nabi saw.

Mauled dalam bentuknya yang sekarang memang tidak pernah dilakukan oleh rasulullah saw sendiri, namun bukan berarti termasuk hal bid’ah jika dalam rangkaian acara mauled nabi ini tidak ada pekerjaan yang haram atau maksiat.

Ada beberapa koreksi untuk peringatan mauled nabi saw di Indonesia ini yaitu:

  1. Membaca kitab barzanji yang berisi sejarah nabi hendaknya bisa difahami oleh masyarakat awam.
  2. Sejarah nabi yang dibaca jangan hanya sejarah kelahiran, perlu dibaca juga sejarah pasca kelahiran dan ghazawat beliau.
  3. Ceramah maulid hendaknya diperluas cakupannya dan diperdalam keilmuannya, tidak hanya meneladani rasulullah saw dalam hal social dan dakwah.
  4. Dana yang digunakan untuk mauled hendaknya dihemat dan tidak dihambur-hamburkan.
  5. Susunan acara harus steril dari kesia-siaan. Tidak perlu acara hiburan yang berlebihan.
  6. Waktu penyelenggaraan hendaknya siang hari, kalaupun malam tidak lebih dari jam 12 malam karena pasti mengganggu lingkungan.
  7. Panitia penyelenggara hendaknya tidak menutup jalan yang dekat dengan tempat penyelenggaraan karena nabi saw melarang menutup jalan dan memerintahkan agar membuah hambatan di jalan.
  8. Panitia penyelenggara hendaknya menunjukkan loyalitasnya dengan ibadah dan akhlaq islam.
  9. Acara maulid hendaknya murni keislaman, tidak digunakan untuk kepentingan politik sebagian orang.
  10. Acara maulid hendaknya mampu menyatukan kaum muslimin dan tidak menyatukan sekelompok ormas islam saja, tidak memprofokasi untuk menimbulkan kebencian terhadap sebagian ummat islam yang lain.

Saya sangat yakin jika koreksian di atas dapat difahami dan diterima dengan baik lalu diterapkan dengan sempurna maka kesalahfahaman tentang memperingati mauled nabi Muhammad saw akan mampu diminimalisir.

Wallahu’alam

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *