Pengantar

masalah perayaan haulAnda pernah mendengar kalimat haul? Bagi mereka yang hidup dan bersinggungan dengan masyarakat tentu pernah mendengar kalimat haul itu. Apakah haul itu? Haul adalah acara tahunan yang digelar untuk mengenang seseorang yang telah meninggal dunia sekaligus mendoakannya secara bersama-sama.

Acara haul banyak diadakan di kalangan komunitas NU (nahdhotul ulama) dengan menghadirkan para kyai dan habaib. Terkadang disebut dengan haul akbar jika haul diadakan untuk mengenang seorang tokoh di masyarakat. Acara haul itu juga diadakan bertepatan dengan tanggal wafatnya seseorang yang dimaksud untuk diperingati walaupun ada juga yang meleset dekat atau jauh.

Substansi haul

Apa yang dilakukan para kyai, habaib dan masyarakat dalam acara haul itu? Mereka biasa melakukan pembacaan surat yaasin, surat-surat pendek, beberapa lafaz zikir, membaca barzanji (mauled) dan acara puncaknya adalah tausiyah dan ceramah tentang kesan yang tertangkap selama pergaulan dengan al-marhum yang di-haulkan.

Sebagaimana biasa dalam acara haul ini pula dilakukan pembagian sedekah dan hadiah untuk seluruh tamu/masyarkat yang hadir berupa sembako dan makanan siap santap. Bagi para kyai, ustad-ustad serta para habaib ada hadiah tambahan dari tuan rumah yaitu amplop berisi sejumlah uang ala kadarnya.

Bagaimana fiqh menyikapi perayaan haul ini?

Ada beberapa point yang perlu kita bahas:

  1. Mendoakan orang yang sudah meninggal
  2. Bersedekah atas nama orang yang sudah meninggal
  3. Mengumpulkan orang banyak untuk zikir dan doa bersama
  4. Penentuan jumlah hari untuk mengenang orang yang sudah meninggal

Mendoakan Orang Yang Sudah Meninggal

Di dalam Al-quran kita temukan isyarat atau perintah untuk mendoakan orang yang telah meninggal baik dari keluarga dekat atau non keluarga dekat.(al-hasyr:10)(al-ahqof:15)

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Artinya : dan generasi yang lahir setelah leluhurnya mereka mendoakan dengan ungkapan duhai tuhan kami ampunilah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, janganlah engkau tempelkan kedengkian di hati kami terhadap mereka yang beriman, sesungguhnya engkau adalah tuhan yang maha memperhatikan dan penyayang. (al-hasyr:10)

قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: ia berkata: duhai tuhan..limpahkan kepadaku dorongan untuk mensyukuri nikmatMU kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, juga dorongan untuk beramal sholeh yang engkau ridhoi, masukkanlah aku menjadi golongan hambaMU yang sholeh.(al-ahqof: 15)

Kedua ayat di atas memberikan pengertian kepada kita bahwa orang yang telah meninggal itu perlu di doakan untuk mendapatkan nikmat kubur dan terhindar dari azab kubur. Bahkan nabi Muhammad saw pun dalam banyak hadist beliau telah berdoa untuk orang yang sudah meninggal dunia.

Dengan demikian mendoakan orang yang sudah meninggal dunia secara sendirian atau bersama-sama bukanlah sesuatu yang terlarang dalam ajaran islam.

Adapun mengirimkan pahala kepada orang yang telah meninggal dunia tentu menjadi hal yang sangat kontrovesial karena tidak ada jaminan amal kita itu bernilai pahala yang selanjutnya bisa kita kirimkan kepada seseorang yang kita cintai. Syariat kita mengajarkan bahwa bahwa seseorang yang sudah meninggal dunia itu dalam beberapa hal masih dapat menuai pahala amal sholehnya walaupun sudah meninggal dunia, diantaranya ilmu pengetahuan yang diajarkan, benda yang disedekahkan yang dapat bertahan lama, anak keturunan yang dididik dan tumbuh menjadi orang sholeh, pohon yang ditanam dan terus berbuah, aliran sungai yang dilancarkan, mushaf yang diwakafkan dan lain sebagainya. Sementara seseorang mengirimkan pahalanya untuk orang lain, susah dibayangkan kemungkinannya.??? Disamping memang tidak ada teks yang menjelaskan pengiriman pahala dari satu orang ke orang lain sesuai keinginan orang itu.

Bersedekah Atas Nama Orang Yang Telah Meninggal Dunia

Memberi sesuatu sebagai sedekah adalah perbuatan yang mulia dan dapat meraih pahala dan kedudukan di sisi Allah swt. Seseorang dapat bersedekah kepada siapa saja kecuali keluarga nabi Muhammad saw dan seseorang dapat bersedekah kapan saja tidak ada waktu tertentu dalam bersedekah juga tidak ada barang tertentu untuk melakukan sedekah, bisa dengan apa saja, di mana saja dan kepada siapa saja. Namun bisakah sebuah sedekah di atas namakan orang lain atau bersedekah yang pahalanya untuk orang lain. ? mari kita lihat teks berikut:

عن عائشة رضي الله عنها  : أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه و سلم إن أمي افتلتت نفسها وأظنها لو تكلمت تصدقت فهل لها أجر إن تصدقت عنها ؟ قال ( نعم ) HR.Bukhori 

Artinya : Aisyah bercerita: ada seorang lelaki bertanya kepada nabi saw sesungguhnya ibuku telah meninggal mendadak, seandainya tidak mendadak mungkin dia akan berpesan untuk bersedekah. Jika saya bersedekah atas nama ibu saya, apakah beliau akan mendapat pahala? Rasulullah menjawab : YA.

عن أبي هريرة : أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه و سلم : إن أبي مات و ترك مالا و لم يوص فهل يكفر عنه إن تصدقت عنه ؟ فقال : نعم

 قال الألباني : إسناده صحيح على شرط مسلم HR.Ibnu Huzaimah

Artinya : Abu Hurairah bercerita: ada seorang lelaki datang dan bertanya kepada nabi saw: ayahku telah wafat, ia meninggalkan harta tapi tidak berpesan apa-apa, apakah dosanya dapat diampuni jika saya bersedekah atas nama dia? Rasulullah saw menjawab: YA.

K

edua hadist di atas dan puluhan hadist sejenis telah memberikan penjelasan dengan sangat gamblang bahwa bersedekah atas nama orang yang meninggal dunia membawa manfaat buat si mayit, menambah berat timbangan kebaikannya dan menghapuskan dosanya.

Mengumpulkan orang banyak untuk zikir dan doa bersama

Mengumpulkan orang banyak adalah sunnatullah dalam setiap idealism yang ingin diwujudkan, manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat membutuhkan dukungan saudaranya. Oleh karena itu mereka berusaha untuk mengumpulkan banyak orang agar dirinya menjadi kuat. Begitu juga dalam memohonkan ampunan kepada Allah swt untuk keluarga yang meninggal dunia dibutuhkan dukungan doa untuk lebih kuatnya permohonan doa tersebut sebagaimana rasulullah saw juga mengajarkan agar memberikan dukungan doa kepada orang yang sudah meninggal dalam sabda beliau ketika mengumpulkan para sahabat saat wafatnya najasyi penguasa habasyah/etiopia sebagaimana yang di riwayatkan oleh Bukhori, Muslim,Abu Daud dan para perawi lainnya yang tidak kurang dari 72 riwayat:

عن أبي هريرة قال نعى لنا رسول الله صلى الله عليه و سلم النجاشي صاحب الحبشة اليوم الذي مات فيه فقال ( استغفروا لأخيكم )

Artinya : Rasulullah saw bersabda saat mengumpulkan kami atas wafatnya Najasyi penguasa Habasyah : mintakanlah ampunan untuk saudara kalian ini.

Selain alasan di atas, mengumpulkan banyak orang adalah mengumpulkan sejawat orang tua dan teman-teman beliau yang berarti menyambungkan kembali tali silaturrahim yang pernah beliau rintis sebagai suatu cara yang benar dalam islam untuk birrul walidain/bakti untuk orang tua.

Rasulullah saw bersabda dalam riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmizi dan Ahmad :

عن عبدالله بن عمر : أن النبي صلى الله عليه و سلم قال أبر البر أن يصل الرجل ود أبيه

Artinya : Abdullah bin Umar bercerita bahwa nabi pernah mengajarkan: birrul walidaini yang paling tinggi pasca wafatnya orang tua adalah melanjutkan hubungan dengan orang yang dicintai oleh orang tuanya.

Dari keterangan singkat di atas semakin kuat pemahaman kita bahwa mengumpulkan orang banyak untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal adalah kebiasaan yang memiliki landasan syariat sangat kuat. Mengumpulkan orang banyak lebih baik dari pada berdoa sendirian karena Allah swt bersama kebersamaan hambaNya. Wallahu’alam.

Penentuan jumlah hari untuk mengenang orang yang sudah meninggal

Ada sebagian masyarakat muslim Indonesia yang meyakini keutamaan hari tertentu untuk mengumpulkan orang banyak dalam rangka mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia. Mereka mengumpulkan banyak orang pada tiga hari pertama berturut-turut dari hari wafatnya seseorang. Mereka juga mengumpulkan orang pada hari ke empat puluh, hari ke seratus dan selanjutnya setiap tahun yang disebut dengan acara haul.

Sepanjang pengetahuan yang saya dapatkan, nabi Muhammad saw dan ajaran islam secara umum tidak mengenal keutamaan hari ke 3, ke 7, ke 40, ke 100 dan tahunan (haul) untuk mengumpulkan orang banyak guna berdoa dan berzikir bagi seseorang yang wafat. Sebaiknya masyarakat muslim tidak perlu meyakini adanya keutamaan dari hari-hari tersebut karena untuk meyakini pahala dan hal ghaib lainnya sangat dibuthkan adanya informasi wahyu dalam teks qur’an atau sunnah. Hal seperti itu tidak tepat untuk diyakini jika berdasarkan “qiila wa qoola” atau cerita tanpa sumber yang jelas.

Silahkan mengumpulkan banyak orang untuk mengenang keluarga yang wafat pada hari apapun dan kapanpun tanpa perasaan bersalah jika tidak pada hitungan hari ke 3, ke 7, ke 40, ke 100 dan pada tanggal yang sama di tahun-tahun berikutnya.

Satu hal lagi yang harus di ingat oleh semua anggota keluarga al-marhum yaitu sesuaikanlah kemampuan financial dan kesempatan yang di miliki jika ingin mengumpulkan orang banyak dengan tujuan tersebut.

Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *