Masalah istighotsahIstighosah adalah kalimat yang telah lama dikenal oleh kalangan nahdiyyin namun menjadi lebih populer saat KH.Abdurrahman Wahid menjadi presiden republik Indonesia yang ke-4. Waktu itu banyak kalangan pesantren yang berbasis ormas nahdhotul ‘ulama menyelenggarakan istighosah untuk meminta keselamat bangsa dan Negara kepada Allah swt. Mereka berkumpul dan membaca lafaz-lafaz zikir dalam jumlah yang banyak, mereka juga membaca beberapa surat dan ayat suci al-qur’an lalu mereka memanjatkan doa yang terkadang di iringi dengan tangisan yang sendu. Dalam acara istighosah itu juga mereka mendengarkan ceramah dan tausiyah dari tokoh kyai yang paling mereka hormati.

Acara istighosah sering digelar untuk memenangkan pemilu presiden atau pemilu legislative dan bahkan pesantren assiddiqiyah menyelenggarakan istighosah untuk memenangkan TIMNAS dalam pertandingan sepak bola melawan kesebelasan Malaysia saat sea games 2011 di gelar.

Untuk membahas istighosah ini kita perlu melihat kembali bahasan sebelumnya tentang zikir jama’i.

Untuk istighotsah yang maqbul dan diterima oleh Allah swt perlu kita perhatikan arahan nabi saw dalam sebuah hadist beliau dalam al-mu’jamul kabir Imam Tobroni :

11169 حدثنا محمد بن علي بن الصائغ المكي ثنا محمد بن معاوية النيسابوري ثنا محمد بن سلمة الحراني عن خصيف عن مجاهد عن ابن عباس قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : سيجيء في آخر الزمان أقوام يكون وجوههم وجوه الآدميين وقلوبهم قلوب الشياطين أمثال الذئاب الضواري ليس في قلوبهم شيء من الرحمة سفاكون للدماء لا يرعون عن قبيح إن تابعتهم واربوك وإن تواريت عنهم اغتابوك وإن حدثوك كذبوك وإن ائتمنتهم خانوك صبيهم عامر وشابهم شاطر وشيخهم لا يأمر بمعروف ولا ينهى عن منكر الاعتزاز بهم ذل وطلب ما في أيديهم فقر الحليم فيهم غاو والآمر بالمعروف فيهم متهم المؤمن فيهم مستضعف والفاسق فيهم مشرف السنة فيهم بدعة والبدعة فيهم سنة فعند ذلك يسلط شرارهم ويدعو خيارهم فلا يستجاب لهم

Artinya : akan datang sebuah masa dengan keadaan sebagai berikut ; masyarakat berwajah manusia namun hati mereka adalah (syetan) laksana seekor srigala liar, tidak ada kasih sayang diantara masyarakat itu, saling membunuh, sering mencari aib satu sama lain, pembicaraan tidak ada yang bisa dipercaya, banyak menghianati amanat, populasi kelahiran meningkat, generasi muda tumbuh dengan baik dan cerdas, namun generasi tua tidak melakukan kontroling dan tidak memberi keteladanan, tidak mengajarkan kebaikan dan tidak menegur kemungkaran, mendukung mereka mengakibatkaan kehinaan, berharap dari kekayaan mereka mengakibatkan kemiskinan, yang berakhlaq mulia di masyarakat itu akan tersingkir, penegak kebaikan akan terfitnah, yang beriman akan menjadi kaum lemah, orang yang fasik di masyarakat itu adalah tokoh yang di muliakan, perkara bid’ah diyakini sebagai perkara sunnah dan sebaliknya, pada saat semua terjadi maka yang menjadi kepala Negara adalah yang paling jahat dan jika orang-orang baik berdoa dan beristighotsah maka tidak akan dikabulkan oleh Allah swt.

Dari riwayat tersebut hendaklah kita fahami bahwa untuk mendapatkan kemenangan, mendapatkan kemakmuran dan keamanan negri, istighotsah bukanlah solusi pertama yang harus dilakukan, istighosah tidak akan diterima jika kebaikan tidak maksimal diajarkan dan keburukan tidak ditegur, istighostah tidak akan berpengaruh jika hal-hal bid’ah masih subur, istighotsah tidak akan diterima jika dukungan politik terhadap pelaku kemaksiatan masih dominan, istighostah tidak akan makbul jika kepala Negara adalah seorang yang banyak kasus kejahatannya.

Oleh kerena itu saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan perbaikan diri dengan berintrospeksi dan mengevaluasi keadaan keluarga dan lingkungan ke arah yng lebih baik.

Pengentasan tindak pidana korupsi haruslah lebih berani dan lebih transparan serta lebih keras hukumannya, begitu juga personil anggota DPR dan DPRD haruslah berfikir positif dan tidak melulu membela kepentingan pragmatis dan partai masing-masing serta tidak melindungi kadernya yang memiliki kasus pidana atau moral.

Para kyai hendaklah lebih berhati-hati dalam memberikan dukungan kepada calon-calon pimpinan daerah ataupun Negara, hendaklah lebih takut kepada Allah daripada kepada penguasa dan pengusaha. Jika seluruh elemen telah memperbaiki diri maka istighotsah akan terkabul dan Negara kita menjadi lebih makmur dan sejahtera.

Wallahu’alam.

Ustadz Ahmad Bisyri, Lc, MA.
Konsultan zaid Bin Tsabit Waris Center

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *