Logika nasab dan warisan(MWI-27) Kenapa pembagian warisan secara hukum Islam itu adil dan obyektif ? Salah satu sebabnya adalah pernasaban. Dalam hukum waris Islam, Pernasaban adalah standarisasi yang menjadikan seseorang itu sebagai ahli waris atau tidak.

Pernasaban juga menjadi standar besar kecilnya perolehan warisan bagi ahli waris. Dengan standar pernasaban maka pembagian warisan menjadi sangat obyektif, kenapa?

  • Karena seseorang tidak pernah memilih bernasab kepada siapa.
  • Karena pernasaban murni kehendak Allah swt.
  • Karena pernasaban tidak bisa diputuskan oleh seseorang atas orang lain.
  • Karena pernasaban bukanlah pilihan dalam hidup seseorang.
  • Karena pernasaban jauh dari kepentingan pragmatis dan hal-hal subyektif lainnya.

Mari kita perhatikan firman Allah swt dalam menetapkan ahli waris dan bagian masing-masing.

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا (11)

Artinya : Allah swt telah mewajibkan kepada kalian bagian 2:1 bagi anak-anak kalian antara laki-laki dan perempuan, Jika jumlah anak perempuan itu 2 orang atau lebih maka jatahnya 2/3, jika anak perempuan itu jumlahnya 1 orang maka jatahnya ½. Bagi ayah dan ibu masing-masing mendapatkan jatah 1/6 dari warisan jika si mayit mempunyai anak, jika si mayit tidak punya anak sedangkan kedua orang tuanya masih hidup maka jatah ibunya 1/3, Jika kedua orang tua masih hidup dan juga saudara/I nya masih hidup maka jatah ibunya hanyalah 1/6,
Pembagian itu dilakukan setelah pelunasan hutang dan pembayaran wasiat, Kalian tidak akan mengetahui kebaikan itu akan dari orang tua atau anak-anak kalian, Pembagian itu adalah ketetapan wajib dari allah swt karena sesungguhnya Allah swt itu maha mengetahui dan maha bijaksana. (QS. An-Nisa:11)

Keterangan : Dalam ayat tersebut Allah swt tidak pernah menyebut jasa dan kesalehan seseorang sebagai standar pembagian warisan. Allah swt hanya menyebut nasab: anak, ayah, Ibu,Saudara sebagai standar untuk menjadi ahli waris dan mendapat jatah warisan. Subhanallah…

Kebaikan dan kesalehan seseorang tidak menjadi standar dalam pembagian harta warisan karena penilaiannya hanya milik Allah swt. Tidak ada yang tahu siapa yang lebih soleh diantara manusia kecuali Allah swt.

Adapun nasab, warga masyarakat dengan mudah mengetahui si fulan anak siapa?, bapaknya siapa? Ibunya siapa? Saudara dan saudarinya siapa? Dengan demikian akan memudahkan pembagian warisan dalam kehidupan manusia. Subhanallah…

Oleh karena itu anak yang lahir tidak menjadi ahli waris karena anak itu tidak diakui pernasabannya dalam islam akibat perbuatan haram (zina) yang dilakukan oleh ayah dan ibunya. Begitu juga dengan anak tiri dan anak angkat, ayah angkat, ibu angkat, saudara/i angkat tidak akan pernah menjadi ahli waris selamanya karena mereka tidak memiliki pernasaban dengan si mayit.

Sebaik apapun nasab seseorang, se-dekat apapun hubungan seseorang dengan orang lain kecuali hubungan suami istri, ia tidak akan pernah menjadi ahli waris karena tidak memiliki pernasaban.

Begitu juga sebaliknya, seseorang tidak akan pernah bisa menghalangi hak waris dari seorang ahli waris jika ia memiliki pernasaban. Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa nasab itu sangat penting bagi seorang muslim. Nasab adalah kehormatan, nasab adalah keturunan yang sah dalam Islam dan nasab adalah sebab bagi seseorang untuk menjadi ahli waris dan menerima hak waris.

Wallahu’alam.

Ustadz Bisyri, Lc, MA
Konsultan & Pendiri Lembaga zaid Bin Tsabit Waris Center

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *