Kasus-kasus Sholat Jumat – Melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang “Masalah Sholat Jumat“, maka pada tulisan kali ini kami lanjutkan dengan tema kasus-kasus sholat jumat yang diambil dari buku Fiqih Tradisi Karya “Ustadz Ahmad Bisyri, Lc, MA.

Panjang dan pendeknya khutbah jum’at

kasus-kasus sholat jumatKhutbah jum’at adalah wejangan atau nasehat-nasehat yang sengaja disampaikan sebelum pelaksanaan sholat jum’at. Khutbah jum’at juga sebuah prasarat penyelenggaraan sholat jum’at dalam arti tidak sah sholat jum’at sebuah kelompok masyarakat jika tidak ada khutbahnya. Sebagai nasehat umum kepada masyarakat tentu dapat difahami secara logis bahwa materi yang disampaikan dalam khutbah jum’at haruslah dapat difahami dan mudah dicerna oleh jamaah sholat jum’at. Maka agar dapat difahami uraian khutbah juga harus runut dan tertib. Oleh karena itu panjang dan pendeknya khutbah jum’at bukanlah suatu ketentuan baku yang wajib dita’ati dan berdosa jika dilanggar.

Sangat baik sekali jika materi khutbah jum’at disampaikan dalam waktu yang singkat namun jelas dan menyentuh permasalahan masyarakat, namun juga tidak salah jika memang harus diuraikan lebih panjang dan lama akibat konsekwensi dari sebuah tema.

Jika ada seseorang yang menentang dengan mengatakan bahwa nabi  saw mencontohkan khutbah jum’at yang pendek dan singkat, saya menjelaskan bahwa nabi saw telah diberikan keistimewaan yang disebut “jawami’ul kalimi” sehingga kalimat yang meluncur dari nabi saw selalu memiliki bobot yang padat dalam untaian yang pendek atau tidak terlalu panjang. Jika seseorang juga memiliki keistimewaan seperti itu tentu akan sangat bagus dan sangat hebat. Tujuan yang ingin dicapai dalam khutbah jum’at adalah sampainya pesan langit secara memadai dan gamblang, apakah dengan uraian panjang atau uraian pendek…hal itu bukanlah sebuah harga mati karena para sahabat beliau dan generasi tabi’in pun tercatat menyampaikan khutbah jumat dalam waktu lama dengan uraian yang panjang.

Dengan demikian dapat kita fahami bahwa nabi saw telah diberikan “jawami’ul kalimi”yaitu kemampuan untuk berbicara singkat dan padat. Sementara selain nabi Muhammad saw yang diberikan kemampuan seperti itu tidaklah banyak. Maka boleh saja seorang khotib jum’at berbicara panjang dan lama dengan syarat uraian panjang itu adalah penting, berbobot dan mencerahkan masyarakat.

Untuk zaman sekarang, masyarakat kita memang sangat perlu dan membutuhkan uraian panjang dan gamblang akibat kompleksnya permasalahan, maka panjang-pendeknya khutbah janganlah menjadi ukuran kwalitas khutbah seorang khotib jum’at.

Di sis lain perlu untuk saya ingatkan bahwa seorang khotib jum’at hendaknya terus belajar dan berlatih agar dapat memiliki untaian kalimat yang pendek, berbobot dan indah didengar. Juga seorang khotib hendaknya pandai mengangkat tema-tema yang up date dan terkini untuk diuraikan ditengah masyarakat dari sudut pandang islam.

Jika tema itu membutuhkan uraian yang panjang maka bisa diuraikan panjang dengan tetap memperhatikan kondisi jamaah yang sibuk dengan aktivitasnya, atau lambat faham, atau sudah sangat tua.

Masyarakat hendaknya malu…..Bagaimana mereka begitu keberatan dengan khutbah jum’at yang panjang namun berbobot sementara mereka enjoy dan sangat menikmati acara dialog atau lawakan tidak mendidik yang ditayangkan lebih panjang dan lebih lama,….mereka sama sekali tidak pernah merasa keberatan apalagi memprotes durasi acara tersebut. Wallahu’alam.

Bahasa arab dalam khutbah jum’at

Tidak saya temukan sebuah teks dalam islam baik dari al-qur’an ataupun sunnah nabi saw yang mewajibkan penggunaan bahasa arab untuk menyampaikan khutbah jum’at. Bahkan saya mengatakan: tidak ada ijma’ ulama sejak dahulu hingga sekarang yang mewajibkan penggunaan bahasa arab dalam menyampaikan khutbah jum’at. Sedangkan hokum dasar dalam sebuah ibadah adalah tahrim/nothing hingga jelas keberadaan dalil yang memerintahkannya.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa khutbah jum’at adalah nasehat dan arahan serta wejangan untuk kebaikan masyarakat itu baik dalam urusan duniawi ataupun ukhrowi. Sedangkan masyarakat islam sudah tersebar luas seluas dunia ini. Mereka memiliki bahasa yang beragam dan berbeda beda.

Bahasa arab memang bahasa al-quran, bahasa yang dipakai oleh nabi saw sebagai alat komunikasi dan memberikan keterangan tentang islam. Namun kita juga harus mengerti bahwa tidak semua ummat islam memahami bahasa arab, sementara mereka tidak memiliki kesempatan atau kemampuan untuk menguasai bahasa arab tersebut.

Memang kita patut berbangga dengan para leluruh kita yang telah mampu menjadikan bahasa arab sebagai bahasa masyarakat dari etnis apapun yaitu pada saat khilafah islamiyah Berjaya selama seribu tahun lebih. Ketika itu segala interaksi baik perdagangan, pengajaran atau perpolitikan memang menggunakan bahasa arab sehingga khutbah jum’at pun dapat difahami oleh non arab walaupun berbahasa arab.

Tapi kita juga harus sadar bahwa generasi sekarang telah lemah, mereka kalah dengan orang-orang kafir dalam pertarungan kehidupan sejak tahun 1924, sehingga bahasa arab tidak lagi menjadi bahasa masyarakat yang mendunia, bahasa arab telah diletakkan menjadi bahasa yang tidak punya gengsi, tidak membawa keuntungan materil. Bahasa arab terkesan sebagai bahasa favorit bagi mereka yang senang dengan agama islam saja.

Oleh karenanya, Apakah kita masih akan memaksakan diri untuk melaksanakan khutbah jum’at dengan bahasa arab yang tidak difahami jamaah sholat jum’at sehingga mereka tertidur saat khotib berkhutbah, sehingga mereka kehilangan pesan islam yang sangat hebat tentang kehidupan.

Dalam khutbah jum’at yang ingin disampaikan adalah pesan-pesan islamnya dan bukan bunyi bahasanya sehingga tidak menjadi keharusan dalam khutbah jum’at untuk menggunakan bahasa arab dalam menyampaikan pesan, jika dipaksakan penggunaan bahasa arab dalam khutbah jum’at di tengah-tengah masyarakat non arab maka sia-sialah pesan khutbah jum’at itu.

Sholat zuhur setelah sholat jum’at

Fenomena adanya sebagian masyarakat yang melakukan sholat zuhur setelah menyelesaikan sholat jum’at adalah fenomena yang sudah cukup lama. Dari beberapa pertanyaan yang di ajukan kepada saya oleh sebagian masyarakat, sesungguhnya hal itu terjadi karena adanya “keyakinan” dari sebagian masyarakat muslim bahwa “al-jum’atu liman sabaq” artinya sahnya penyelenggaraan sholat jum’at di sebuah komunitas ditinjau dari ketepatan waktu penyelenggaraannya.

Saya tidak menemukan sama sekali dalam kumpulan kitab hadist di perangkat digital al-maktabah as-syamilah teks “al-jum’atu liman sabaq” sebagai sebuah hadist.

Namun, disamping kepalsuan teks di atas…… hal itu menurut saya adalah hal yang nisbi yakni tidak memiliki standar yang jelas tentang ketepatan waktu penyelenggaraan itu sendiri.

Apa yang akan dijadikan standar ketepatan waktu/”liman sabaq”?

Apakah standarnya memulai khutbah? Atau mengakhiri khutbah? Atau memulai sholat jum’at? Atau  mengakhiri sholat jum’at?

Ketidakjelasan itu menurut saya sudah cukup untuk menjadi alasan agar masyarakat tidak berpegang dengan “keyakinan” tersebut. Alasan/argumentasi lain adalah jika memang seseorang tidak yakin bahwa sholat jum’atnya menjadi tidak sah di suatu masjid, maka lebih baik ia tidak sholat jum’at ditempat yang meragukan tadi dan beralih ke masjid yang tidak meragukan.

Jumlah jamaah dalam sholat jum’at

Telah menjadi kesepakatan ulama dari masa ke masa bahwa sholat jum’at adalah sholat yang dilaksanakan secara berjamaah. Namun mereka tidak bersepakat tentang berapa jumlah jamaah agar sholat jum’atnya menjadi sah.?

  1. Al-hanafiyah : sholat jum’at akan sah jika jumlah jamaahnya minimal 2 orang.
  2. Al-malikiyah : sholat jum’at akan sah jika jumlah jama’ahnya minimal 12 orang.
  3. As-syafi’iyah : sholat jum’at akan sah jika jumlah jamaahnya minimal 40 orang dari penduduk lokal bukan pendatang.
  4. Al-hanabilah : sholat jum’at akan sah jika jumlah jamaah 40 orang dari penduduk lokal atau pendatang.

Argumentasi masing-masing mazhab:

  1. Al-hanafiyah : sholat jum’at adalah sholat jamaah dan jumlah jamaah yang diakui oleh para ulama minimal 2 orang, maka sholat jum’at dapat dilakukan dengan jumlah minimal sebuah jama’ah yaitu 2 orang.
  2. Al-malikiyah : sholat jumat yang pertama kali di adalah oleh nabi jumlah jamaahnya adalah 12 orang, merekalah yang tersisa untuk mendengarkan khutbah jum’at nabi Muhammad saw pada saat jamaah lain bubar meninggalkan nabi akibat adanya kafilah dagang yang dating ke madinah saat itu. Maka jumlah jamaah minimal yang menjadi syarat pelaksanaan sholat jum’at adalah 12 orang.
  3. As-syafi’iyah dan al-hanabilah : sholat jumat yang pertama kali di adalah oleh nabi jumlah jamaahnya adalah 40 orang, merekalah yang tersisa untuk mendengarkan khutbah jum’at nabi Muhammad saw pada saat jamaah lain bubar meninggalkan nabi akibat adanya kafilah dagang yang dating ke madinah saat itu. Maka jumlah jamaah minimal yang menjadi syarat pelaksanaan sholat jum’at adalah 40 orang.

Dari uraian singkat akan pandangan mazhab dan argumentasi mereka tentang jumlah jama’ah sholat jum’at dapat kita fahami bahwa satu sama lain tidak dapat mematahkan argumentasi yang lain.

Dalam hal seperti ini tidak dibenarkan secara ilmu fiqh untuk mengklaim tidak sah sholat jumat sebuah masyarakat yang menggunakan salah satu dari tiga pendapat yang ada dalam literature mazhab. Tidak juga dibenarkan untuk mengklaim ‘bid’ah’ dari yang mengerjakan salah satu dari tiga pendapat mazhab yang ada. Wallahu’alam.

Meninggalkan sholat jum’at tanpa uzur/alasan

Meninggalkan sholat jum’at dengan sengaja tanpa alasan yang syar’i bagi mereka yang terkena kewajiban adalah dosa besar walaupun hanya sekali. Maka meninggalkan dan mengabaikan sholat jum’at selama tiga kali tentu akan lebih besar dosanya dan lebih buruk akibatnya. Perhatikanlah sabda nabi saw di bawah ini.

عَنْ أَبِى الْجَعْدِ الضَّمْرِىِّ – وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ ».HR.abu Daud

Artinya :rasulullah saw bersabda: seseorang yang mengabaikan sholat jum’at sebanyak tiga kali tanpa alasan syar’I maka Allah swt akan matikan hatinya. HR.Abu Daud

Begitu juga nabi saw menjelaskan dalam riwayat lain bahwa seseorang yang meninggalkan sholat jum’at dengan sengaja tanpa alasan syar’I hendaknya ia bersedekah dengan uang sebesar satu setengah sampai satu dinar atau 4,25 gram emas 24 karat atau setengahnya.

Perhatikan sabda nabi Muhammadsaw di bawah ini:

عن سمرة بن جندب : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : من ترك الجمعة من غير عذر فليتصدق بدينار فإن لم يجد فبنصف دينار       HR.al-hakim

Artinya : nabi bersabda: seseorang yangmeninggalkan sholat jum’at tanpa uzur maka bersedekahlah ia dengan satu dinar, jika tidak mampu maka bersedekah dengan setengah dinar.

Begitulah beberapa ajaran islam dalam kasus-kasus sholat jum’at yang ada.

Dari keterangan di atas dapat kita tarik beberapa pelajaran penting diantaranya:

  1. Nabi Muhammad saw sangat peduli kepada ummatnya akan keselamatan mereka untuk hidup di dunia dan akhirat dengan kewajiban sholat jum’at.
  2. Sholat jum’at memiliki urgensi tersendiri yang berbeda daripada sholat lainnya yaitu mendengarkan khutbah jum’at yang akan menghidupkan hati dan membuka fikiran seorang muslim dalam menghadapi kehidupannya.

Kewajiban sholat jum’at pada hari ied/hari raya

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِىٍّ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِى رَمْلَةَ قَالَ سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ سَأَلَ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ قَالَ نَعَمْ صَلَّى الْعِيدَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ.

Artinya: Mu’awiyah bertanya kepada Zaid bin arqom: apakah engkau pernah menjumpai dua ied/hari raya (ied dan jum’at) pada masa nabi SAW? Zaid menjawab: pernah, kami sholat ied bersama rasulullah saw di pagi hari kemudian beliau menggugurkan kewajiaban sholat jum’at untuk kami. (HR.Bukhori, Abu Daud dan Nasa’i)

Riwayat di atas bersama riwayat senada yang lain menjelaskan bahwa kewajiban sholat jum’at menjadi gugur bagi seseorang yang telah melaksanakan sholat ied di pagi hari, sedangkan yang tidak melaksanakan sholat ied di pagi hari bagi mereka kewajiban sholat jum’at masih tetap ada/eksis, namun kewajiban sholat zuhur tidaklah gugur bagi yang sudah sholat ied.

Maka jika hari raya/ied itu berada pada hari jum’at dan seseorang telah melaksanakan ied ia tidak lagi wajib untuk melaksanakan sholat jum’at, ia boleh ikut sholat jum’at walaupun sudah melaksanakan sholat ied jika ia mau/suka.

Wallahu’alam.

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *