harta gono gini dalam islam

Harta Gono Gini Dalam Islam  – Apakah yang disebut dengan harta gono-gini? Apakah landasan pembagian harta gono-gini? Yuk kita simak sama-sama penjelasan berikut ini, diambil dari buku Mudahnya Memahami Hukum Waris Islam yang di tulis oleh Ustadz Ahmad Bisyri, Lc, MA (Konsultan Waris Zaid Bin Tsabit)

Harta Gono Gini Dalam Islam Harta gono-gini adalah istilah di tengah masyarakat Indonesia yang berarti harta yang dimiliki bersama dalam sebuah pernikahan dengan anggapan bahwa sepasang suami istri telah memperoleh harta kekayaan mereka secara bersama-sama.

Sebenarnya ajaran islam telah mengatur dengan jelas tentang kepemilikan harta antara seorang suami dan istrinya. Surah Al-Baqarah ayat 223 telah menjelaskan kewajiban financial berada di atas pundak suami dan ia berkewajiban untuk membiayai segala kebutuhan hidup istri  dan anak-anak yang dilahirkannya.

Istri telah diberikan hak materi berupa segala kebutuhan hidupnya dari kewajiban nafkah suaminya. Dari nafkah itu sang istri dapat memiliki kekayaan dan simpanan sesuai kemampuan yang dimiliki oleh suami.

Seorang istri tidak hanya mendapatkan kebutuhan konsumsi sehari-hari tetapi juga mendapatkan jatah uang untuk menjadi tabungan pribadinya akan akan bermanfaat saat dibutuhkan. Bahkan sebetulnya seorang istri berhak mendapatkan kompensasi atas konsentrasinya mengurus rumah dan keluarga dengan tidak beraktifitas atau bekerja di luar rumah yang tentunya dapat menjadi sumber kekayaan dirinya.

Dengan aturan seperti itu dapat kita fahami bahwa seorang istri sesungguhnya telah mendapatkan bagiannya dari kekayaan yang dihasilkan oleh suaminya, tanpa menunggu wafatnya sang suami.  Ia dapat menjadi kaya raya jika suaminya memiliki kekayaan dan perolehan harta yang besar begitu pula istri tetap dapat memiliki kekayaan walaupun suaminya berpendapatan sedikit.

Dengan demikian sesungguhnya tidak ada lagi pembagian sama rata (gono-gini) dari harta yang dihasilkan oleh suami dalam pernikahan mereka jika salah seorang dari mereka telah meninggal dunia atau keduanya telah bercerai.

Pembagian harta sama rata (gono-gini) antara suami istri dari kekayaan yang mereka telah hasilkan masih dapat difahami/dibenarkan secara realita dalam satu kasus saja yaitu: pada saat sebuah kerja sama komersial antara suami istri telah terjadi dengan modal dan kerja masing-masing sementara pembagian hasil kerjasama tersebut sama sekali belum pernah dilakukan sebelum salah satunya meninggal dunia atau sebelum perceraian.

Pembagian harta sama rata (gono-gini) tentu tidak bisa diterima secara logika maupun realita jika hanya didasari “pernikahan” semata. Pembagian harta gono-gini hanya bisa diterima atau dibenarkan jika selama pernikahan telah terjadi pencampuran harta antara suami dan istri atau pencampuran antara kerja dan harta dalam sebuah usaha mereka.

Pembagian harta warisan sebenarnya telah dimudahkan oleh Allah swt dengan semua rincian yang diberikan namun sayangnya banyak manusia yang membuat pembagian itu menjadi rumit dan sulit akibat hawa nafsu yang mereka perturutkan.

Untuk menghindari polemik harta gono-gini, saya menyarankan kepada setiap keluarga untuk melakukan peng-arsipan kekayaan masing-masing suami dan istri, membuat dokumentasi tentang sejarah dan sumber kepemilikan masing-masing antara suami dan istri tersebut. Wallahu’alam.

Save

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *