antara Ghibah dan Bukan Ghibah

Banyak orang menyebut bahwa 2018 dan 2019 adalah tahun politik di indonesia karena penyelenggaraan PILKADA dan PILPRES. Ada yang janggal dalam aturan pemilu kita terkait kampanye hitam dimana seorang yang menjadi calon anggota legeslatif atau calon eksekutif tidak boleh diungkap hal-hal negative dari masa lalunya.

Bahkan pihak yang mengungkap keburukan seorang calon akan dikenakan sanksi dan hukuman. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Hal seperti itu menurut saya tidak sehat dan tidak fair sepajang keburukan seseorang adalah realita dirinya.

Menyebut dan mengungkap keburukan calon dalam kontestasi kepemimpinan adalah hal yang wajar, realistis dan berdampak kemaslahatan public. Sebaliknya menyembunyikan keburukan mereka adalah pembodohan public yang berdampak sangat negative yaitu terpilihnya orang yang tidak kapabel dan tidak menguntungkan bagi public.

Dalam ajaran islam menyebut keburukan orang lain itu tidak dibenarkan jika semata-mata karena permusuhan yang subyektif. Namun islam membenarkan untuk menyebut dan mengungkap keburukan seseorang itu dengan tujuan menyelamatkan public dari kekuasaan seseorang yang fasik, zalim dan munafik. Haramnya menyebut keburukan seseorang di hadapan public bukanlah keharaman mutlak dalam islam. Mari ikuti kajian berikut ini:

Banyak orang sudah tahu bahwa ghibah itu hukumnya haram dengan sederet dalil al-qur’an dan sunnah di bawah ini.

قَالَ الله تَعَالَى : { وَلاَ يَغْتَبْ بَعضُكُمْ بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ } [ الحجرات : 12 ] ،

Artinya : janganlah kamu ber-ghibah satu sama lain karena kamu tahu bahwa perbuatan itu sama halnya dengan memakan daging seseorang yang telah mati, sangat menjijikan. Bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah swt maha penerima taubat dan maha penyayang.

وقال تَعَالَى : { وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إنَّ السَّمْعَ وَالبَصَرَ وَالفُؤادَ كُلُّ أُولئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً } [ الإسراء : 36 ] ،

Artinya : jangan menyikapi sesuatu yang tidak kamu fahami dengan ilmu pengetahuan, karena pendengaran dan penglihatan itu akan ditagih pertanggung jawabannya.

وقال تَعَالَى : { مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتيدٌ } [ ق : 18 ] .

Artinya : tidak satu katapun yang terucap oleh lidah melainkan akan diminta pertanggung jawabannya.

Syeikh Muhammada Fuad Abdul Baqi dalam tahqiq kitab riyadussholihin mengatakan;

اعْلَمْ أنَّهُ يَنْبَغِي لِكُلِّ مُكَلَّفٍ أنْ يَحْفَظَ لِسَانَهُ عَنْ جَميعِ الكَلامِ إِلاَّ كَلاَماً ظَهَرَتْ فِيهِ المَصْلَحَةُ ، ومَتَى اسْتَوَى الكَلاَمُ وَتَرْكُهُ فِي المَصْلَحَةِ ، فالسُّنَّةُ الإمْسَاكُ عَنْهُ ، لأَنَّهُ قَدْ يَنْجَرُّ الكَلاَمُ المُبَاحُ إِلَى حَرَامٍ أَوْ مَكْرُوهٍ ، وذَلِكَ كَثِيرٌ في العَادَةِ ، والسَّلاَمَةُ لا يَعْدِلُهَا شَيْءٌ .
Artinya ;
Ketahuilah bahwa setiap individu itu wajib menjaga lisan (pembicaraannya/komentarnya/artikelnya) dari semua perkataan buruk KECUALI dia yakin akan adanya kebaikan dan maslahat dari perkataan buruknya.

Jika seseorang mempertimbangkan bahwa berkomentar dan tidak berkomentar itu sama kebaikannya maka ia lebih baik tidak berkomentar karena ia bisa saja terpancing untuk berkomentar dengan komentar yang haram atau makruh. Oleh karena itu sebaiknya ia memilih tidak berkomentar.

Banyak orang sudah tahu bahwa ghibah itu artinya : menceritakan kejelekan rill dari seseorang untuk tujuan kepentingan pribadi yang subyektif ketika orang itu tidak ada.

عن أبي هريرة : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال أتدرون ما الغيبة ؟ قالوا الله ورسوله أعلم قال ذكرك أخاك بما يكره قيل أفرأيت إن كان في أخي ما أقول ؟ قال إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته وإن لم يكن فيه فقد بهته
Artinya : rasulullah saw bersabda: tahukah kalian apa yang dimaksud dengan ghibah? Para sahabat menjawab: allah dan rasulNya lah yang lebih tahu. Lalu beliau bersabda, seraya menjelaskan : ghibah itu adalah menyebutkan kejelekan seseorang yang orang itu sangat tidak suka disebutkan kejelekannya. Lalu ada interupsi dari seseorang yang berkata: bagaimana hukum nya jika kejelekan itu adalah realita diri orang itu?? Rasulullah saw menjawab: justru itulah yang disebut ghibah. Sebaliknya jika kejelekan yang kau sebutkan itu tidak benar adanya maka itu adalah dusta belaka. (fitnah)

[ ش ( بهته ) يقال بهته قلت فيه البهتان وهو الباطل والغيبة ذكر الإنسان في غيبته بما يكره وأصل البهت أن يقال له الباطل في وجهه وهما حرامان لكن تباح الغيبة لغرض شرعي ] HR.Muslim

Dalam syarah sohih muslim dijelaskan hadist di atas : ghibah dan dusta/fitnah adalah dua pekerjaan yang sama haramnya KECUALI jika di temukan kebaikan dan kemaslahatan yang dibenarkan syariat.

محمد بن سيرين قال إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

Muhammad ibnu sirin berkata : ilmu pengetahuan ini (hadist nabi saw) adalah bagian tak terpisahkan dari agama ini. Maka bersikaplah SELEKTIF dalam menerima informasinya.

اعْلَمْ أنَّ الغِيبَةَ تُبَاحُ لِغَرَضٍ صَحيحٍ شَرْعِيٍّ لا يُمْكِنُ الوُصُولُ إِلَيْهِ إِلاَّ بِهَا ، وَهُوَ سِتَّةُ أسْبَابٍ :

Ketahuilah bahwa GHIBAH itu telah dibenarkan untuk dilakukan jika DIYAKINI ada kebaikan dan kemaslahatan syariat yang tidak bisa ditegakkan kecuali dengan melakukan ghibah itu sendiri. Kemaslahatan itu ada enam jenis:

الأَوَّلُ : التَّظَلُّمُ ، فَيَجُوزُ لِلمَظْلُومِ أنْ يَتَظَلَّمَ إِلَى السُّلْطَانِ والقَاضِي وغَيرِهِما مِمَّنْ لَهُ وِلاَيَةٌ ، أَوْ قُدْرَةٌ عَلَى إنْصَافِهِ مِنْ ظَالِمِهِ ، فيقول : ظَلَمَنِي فُلاَنٌ بكذا .

PERTAMA ; untuk mengadukan KEZALIMAN kepada hakim dalam sebuah sidang di pengadilan atau pengaduan kepada pihak non pengadilan yang dianggap mampu melepaskan kezalimannya seperti media social, media massa dan tokoh-tokoh nasional.

الثَّاني : الاسْتِعانَةُ عَلَى تَغْيِيرِ المُنْكَرِ ، وَرَدِّ العَاصِي إِلَى الصَّوابِ ، فيقولُ لِمَنْ يَرْجُو قُدْرَتهُ عَلَى إزالَةِ المُنْكَرِ : فُلانٌ يَعْمَلُ كَذا ، فازْجُرْهُ عَنْهُ ونحو ذَلِكَ ويكونُ مَقْصُودُهُ التَّوَصُّلُ إِلَى إزالَةِ المُنْكَرِ ، فَإنْ لَمْ يَقْصِدْ ذَلِكَ كَانَ حَرَاماً .

KEDUA : untuk tujuan memperbaiki sebuah KEMUNGKARAN seperti mengembalikan banyak orang ke jalan yang benar setelah mereka disesatkan. Seseorang yang memiliki pengaruh luas di masyarakat boleh berkata : JAUHI si fulan itu karena perbuatannya adalah KEMUNGKARAN.

الثَّالِثُ : الاسْتِفْتَاءُ ، فيقُولُ لِلمُفْتِي : ظَلَمَنِي أَبي أَوْ أخي ، أَوْ زوجي ، أَوْ فُلانٌ بكَذَا فَهَلْ لَهُ ذَلِكَ ؟ وَمَا طَريقي في الخلاصِ مِنْهُ ، وتَحْصيلِ حَقِّي ، وَدَفْعِ الظُّلْمِ ؟ وَنَحْو ذَلِكَ ، فهذا جَائِزٌ لِلْحَاجَةِ ، ولكِنَّ الأحْوطَ والأفضَلَ أنْ يقول : مَا تقولُ في رَجُلٍ أَوْ شَخْصٍ ، أَوْ زَوْجٍ ، كَانَ مِنْ أمْرِهِ كذا ؟ فَإنَّهُ يَحْصُلُ بِهِ الغَرَضُ مِنْ غَيرِ تَعْيينٍ ، وَمَعَ ذَلِكَ ، فالتَّعْيينُ جَائِزٌ كَمَا سَنَذْكُرُهُ في حَدِيثِ((1)) هِنْدٍ إنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى .

KETIGA: untuk MEMINTA PENJELASAN FATWA kepada mufti atau Lembaga fatwa berwenang. Seseorang boleh menceritakan kejelekan orang lain kepada mufti untuk kebutuhan meminta sebuah fatwa.
Kalua bisa tidak menyebut nama dan identitas orang lain itu lebih baik. Namun jika diperlukan menyebut nama dan identitas pelaku kejahatannya maka itu BOLEH dilakukan.

الرَّابعُ : تَحْذِيرُ المُسْلِمينَ مِنَ الشَّرِّ وَنَصِيحَتُهُمْ ، وذَلِكَ مِنْ وُجُوهٍ :

KEEMPAT : untuk memberikan WARING atau TAHZIR atau PERINGATAN bagi public agar tidak terkena suatu keburukan dari seseorang. (Seorang tokoh masyarakat, ustadz, kyai, habib, muballigh BOLEH menyebut keburukan seseorang atau sekelompok orang agar public tidak terkena imbasnya dan menjadi waspada.)

مِنْهَا جَرْحُ المَجْرُوحينَ مِنَ الرُّواةِ والشُّهُودِ وذلكَ جَائِزٌ بإجْمَاعِ المُسْلِمينَ ، بَلْ وَاجِبٌ للْحَاجَةِ .

Contoh : menyebutkan kejelekan seorang perawi hadist adalah BOLEH secara ijma’.

ومنها : المُشَاوَرَةُ في مُصاهَرَةِ إنْسانٍ أو مُشاركتِهِ ، أَوْ إيداعِهِ ، أَوْ مُعامَلَتِهِ ، أَوْ غيرِ ذَلِكَ ، أَوْ مُجَاوَرَتِهِ ، ويجبُ عَلَى المُشَاوَرِ أنْ لا يُخْفِيَ حَالَهُ ، بَلْ يَذْكُرُ المَسَاوِئَ الَّتي فِيهِ بِنِيَّةِ النَّصيحَةِ .

Contoh : urun rembuk untuk sebuah lamaran yang datang, atau kerja sama atau transaksi bisnis atau hidup bertetangga. Individu yang diminta untuk menjelaskan BOLEH menyebut keburukan obyek yang ditanyakan.

ومنها : إِذَا رأى مُتَفَقِّهاً يَتَرَدَّدُ إِلَى مُبْتَدِعٍ ، أَوْ فَاسِقٍ يَأَخُذُ عَنْهُ العِلْمَ ، وخَافَ أنْ يَتَضَرَّرَ المُتَفَقِّهُ بِذَلِكَ ، فَعَلَيْهِ نَصِيحَتُهُ بِبَيانِ حَالِهِ ، بِشَرْطِ أنْ يَقْصِدَ النَّصِيحَةَ ، وَهَذا مِمَّا يُغلَطُ فِيهِ . وَقَدْ يَحمِلُ المُتَكَلِّمَ بِذلِكَ الحَسَدُ ، وَيُلَبِّسُ الشَّيطانُ عَلَيْهِ ذَلِكَ ، ويُخَيْلُ إِلَيْهِ أنَّهُ نَصِيحَةٌ فَليُتَفَطَّنْ لِذلِكَ.

Contoh : jika seseorang melihat seorang ulama yang bergaul akrab dengan orang fasik dan pelaku bid’ah maka ia BOLEH menceritakan keburukan orang itu untuk melindungi ulama dari keburukan orang itu.

وَمِنها : أنْ يكونَ لَهُ وِلايَةٌ لا يقومُ بِهَا عَلَى وَجْهِها : إمَّا بِأنْ لا يكونَ صَالِحاً لَهَا ، وإما بِأنْ يكونَ فَاسِقاً ، أَوْ مُغَفَّلاً ، وَنَحوَ ذَلِكَ فَيَجِبُ ذِكْرُ ذَلِكَ لِمَنْ لَهُ عَلَيْهِ ولايةٌ عامَّةٌ لِيُزيلَهُ ، وَيُوَلِّيَ مَنْ يُصْلحُ ، أَوْ يَعْلَمَ ذَلِكَ مِنْهُ لِيُعَامِلَهُ بِمُقْتَضَى حالِهِ ، وَلاَ يَغْتَرَّ بِهِ ، وأنْ يَسْعَى في أنْ يَحُثَّهُ عَلَى الاسْتِقَامَةِ أَوْ يَسْتَبْدِلَ بِهِ .

Contoh: jika seseorang melihat individu yang tidak pantas memegang kekuasaan namun ia diberikan kekuasaan dan tidak mampu menggunakan kekuasaannya dengan adil dan bijak maka BOLEH baginya untuk menceritakan keburukan individu yang memegang kekuasaan tersebut kepada public agar public dapat mencabut kekuasaan yang dipegangnya. Agar public mengganti orang lain yang lebih baik untuk kekuasaan tersebut. Agar public dapat bersikap dengan tepat terhadap induvidu buruk yang memegang kekuasaan itu.

الخامِسُ : أنْ يَكُونَ مُجَاهِراً بِفِسْقِهِ أَوْ بِدْعَتِهِ كالمُجَاهِرِ بِشُرْبِ الخَمْرِ ، ومُصَادَرَةِ النَّاسِ ، وأَخْذِ المَكْسِ((1)) ، وجِبَايَةِ الأمْوَالِ ظُلْماً ، وَتَوَلِّي الأمُورِ الباطِلَةِ ، فَيَجُوزُ ذِكْرُهُ بِمَا يُجَاهِرُ بِهِ ، وَيَحْرُمُ ذِكْرُهُ بِغَيْرِهِ مِنَ العُيُوبِ ، إِلاَّ أنْ يكونَ لِجَوازِهِ سَبَبٌ آخَرُ مِمَّا ذَكَرْنَاهُ .

KELIMA : untuk mencegah KEMUNGKARAN seseorang YANG MEMBANGGAKAN kemungkaran itu di hadapan public. Seperti orang yang mabuk di muka umum, orang yang memeras masyarakat, merampas harta warga secara zalim, orang yang membenarkan kebatilan yang tidak kontroversial.

Keburukan orang itu yang tidak ditampakkan di muka umum tidak boleh diceritakan ke public kecuali ada sebab lain seperti di atas yang telah disebutkan.

السَّادِسُ : التعرِيفُ ، فإذا كَانَ الإنْسانُ مَعْرُوفاً بِلَقَبٍ ، كالأعْمَشِ ، والأعرَجِ ، والأَصَمِّ ، والأعْمى ، والأحْوَلِ ، وغَيْرِهِمْ جاز تَعْرِيفُهُمْ بذلِكَ ، وَيَحْرُمُ إطْلاقُهُ عَلَى جِهَةِ التَّنْقِيصِ ، ولو أمكَنَ تَعْريفُهُ بِغَيرِ ذَلِكَ كَانَ أوْلَى ، فهذه ستَّةُ أسبابٍ ذَكَرَهَا العُلَمَاءُ وأكثَرُها مُجْمَعٌ عَلَيْهِ ، وَدَلائِلُهَا مِنَ الأحادِيثِ الصَّحيحَةِ مشهورَةٌ .

KEENAM ; untuk KEJELASAN IDENTITAS. Jika seseorang telah populer dengan sebutan buruk ditengah masyarakat seperti picek, pincang, bisu, buta dan lainnya maka BOLEH menyebut kekurangan fisik itu untuk memperjelas identitasnya pada saat saat tertentu saja.

Demikianlah enam PENGECUALIAN dari ghibah yang haram yang disetujui oleh ulama-ulama untuk diceritakan kepada orang lain atau public.

Pengecualian ini memiliki dalil-dalil yang sohih dan sudah populer. Diantaranya:

فمن ذَلِكَ :
(1) عن عائشة رَضِيَ اللهُ عنها : أنَّ رجلاً اسْتَأذَنَ عَلَى النبيّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَقَالَ : (( ائْذَنُوا لَهُ ، بِئسَ أخُو العَشِيرَةِ ؟ )) . متفق عَلَيْهِ .

Artinya ; aisyah RA bercerita: ada seseorang yang ingin bertemu nabi saw. Lantas beliau bersabda: suruh dia masuk…!! Bi’sa akhul ‘asyiroh!!

احتَجَّ بِهِ البخاري في جوازِ غيبَة أهلِ الفسادِ وأهلِ الرِّيبِ .

Al-Imam Bukhori menjadikan hadist itu sebagai pembenaran dan hujjah untuk berbuat ghibah terhadap para pelaku kriminalitas.

(2) وعنها ، قالت : قَالَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – : (( مَا أظُنُّ فُلاناً وفُلاناً يَعْرِفانِ مِنْ دِينِنَا شَيْئاً )) . رواه البخاري . قَالَ : قَالَ اللَّيْثُ بن سعدٍ أحَدُ رُواة هَذَا الحديثِ : هذانِ الرجلانِ كانا من المنافِقِينَ .

Rasulullah saw bersabda: si fulan dan si fulan bukanlah orang yang mengerti dan meyakini agama ini dengan benar. Yang dimaksud adalah dua orang munafik, menurut imam al-laits bin sa’ad.

(3) وعن فاطمة بنتِ قيسٍ رَضِيَ اللهُ عنها ، قالت : أتيت النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – ، فقلتُ : إنَّ أَبَا الجَهْم وَمُعَاوِيَةَ خَطَبَانِي ؟ فَقَالَ رسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – : (( أمَّا مُعَاوِيَةُ ، فَصُعْلُوكٌ((4)) لاَ مَالَ لَهُ ، وأمَّا أَبُو الجَهْمِ ، فَلاَ يَضَعُ العَصَا عَنْ عَاتِقِهِ )) متفق عَلَيْهِ .

Artinya : Fatimah binti qois bercerita ; aku datang kepada rasulullah saw untuk berkonsultasi tentang dua lelaki yang melamarku, siapa yang mesti aku terima. Dua lelaki itu adalah : MU’AWIYAH dan ABU JAHM.
Lalu rasulullah saw bersabda; KEDUANYA JANGAN DITERIMA. Karena MU’AWIYAH ITU PEMALAS YANG MISKIN. Sedangkan ABU JAHM ITU BERPERANGAI BURUK, SERING MEMUKUL DENGAN TONGKATNYA.

Inilah hal-hal yang TIDAK TERMASUK GHIBAH sehingga tidak berdosa jika seseorang menyebutkan keburukan, kekurangan, kejelekan seseorang dihadapan public untuk kemaslahatan yang dibenarkan oleh islam. Wallahu’alam.

Ustadz Bisyri, Lc, MA
Konsultan & Pendiri Lembaga zaid Bin Tsabit Waris Center

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *